BISMILLAH

HALLO

Sudah lama sekali aku ngga update tulisan diblogku ini, sudah hampir 3 bulan sepertinya.

Aku mengalami banyak pengalaman hidup baru selama 3 bulan ini, salah satunya aku memutuskan dan bergabung dalam sebuah ranah pekerjaan formal.

Dulu, semua orang disekitarku tau bahwa yang aku harapkan setelah lulus wisuda ialah langsung menyambung master, segala jalan aku coba tempuh untuk mendapatkan apa yang aku inginkan. Belajar, Ikut kegiatan, semua seolah mendekatkanku dengan mimpi meraih master di usia 22 tahun. Tapia apa daya, memutuskan ialah diluar kuasaku melainkan Allah swt. Butuh waktu lama, lamaaaa sekali untuk membuat aku bangkit dari keterpurukan yang tidak berhenti datang. Terutama ketika semua lingkar pertemananku dibuat rata dengan tanah oleh segerombolan manusia. Tak hanya itu, sesuatu terjadi pada keluarga yang aku cintai. Tak ada yang aku beritahu persis apa yang sedang aku alami. Dari luar orang hanya melihat bahwa aku terpuruk pasca wisuda, itu saja. Tawaran kerja datang (Alhamdulillah) bahkan aku sedikit effortless untuk mendapatkan kesempatan itu.

Baca lebih lanjut

Iklan

‘AKHI – UKHTI ZONE’

 

10320531_571976592923130_3843882208168251847_n

Hola!

Kali ini yang ingin saya tulis adalah kegelisahan saya mengenai konsep ‘ke-syariah-an’ yang menjangkiti masyarakat. Tidak masalah jika digunakan dengan benar, semisal perbankan – bisnis – dsb. Tapi, ini menjamah khazanah percintaan. Yap, Percintaan.

Sebenarnya saya sudah lama menyadari konsep yang keliru ini jauh-jauh hari sebelum saya menyandang gelar sarjana. Sebelum saya melanjutkan, mari kita flashback sebentar dimasa saya kuliah.

Saya dikampus sempat ikut sebuah organisasi keagamaan, ya awal-awal kuliah meski lama-lama saya mundur karna lebih merasa tertarik di organisasi lain. Di organisasi keagamaan itu, niat pertama saya karna saya ingin merasakan kembali suasana Madrasah. Mengaji bersama, Membahas sebuah tema setiap minggu, intinya yang tadinya belum baik bisa jadi baik. Tapi, disana yang saya lihat para senior malah lebih erat merangkul ‘orang-orang’ yang sudah terlihat baik. Paham ya maksud saya apa… Terlebih lagi ketika saya melihat logo partai politik di sekretariatnya, sempat mencoba revolusi tapi ketika kita berhadapan sama orang yang membawa agama sebagai tameng kita seolah kafir. Lalu saya hijrah ke sebelah. Tapi tidak dengan memusuhi orang-orang didalam organisasi itu. Saya sampai wisuda pun masih sering mampir disana, dan anehnya beberapa mahasiswa baru kenal saya disana hm…

Baca lebih lanjut

KULIAH DI POLSRI? (Part 2)

IMG_7306 - Copy

ketika jadi kakak pendamping di Diksarlin 2015

kelanjutan dari tulisan sebelumnya disini jadi harap baca itu terlebih dahulu agar connect.

ACADEMIC LIFE

Banyak yang bilang, Politeknik itu ibarat SMK. Ada benernya sih, tapi tidak sepenuhnya. Memang kita dituntut untuk 60 % Vokasi alias praktek sehingga kita unggul di praktek. Tapi kita juga diajarkan teori. Masih belum terbayang?. Oke jadi gini, saya jelaskan di Program Studi saya dulu ya, saya di PJJ (Perancangan Jalan dan Jembatan) Jurusan Teknik Sipil. Kami akan dibagi jadwalnya dalam satu semester kapan kami harus Praktek di Laboratorium atau Bengkel, selebihnya di ruang kelas teori. Kita di Bengkel ya selama 2 Minggu – 2 Minggu change sama job yang belum dikerjakan. Jatahnya sampai 2 semester sebelum lulus setau saya untuk seluruh jurusan pun begitu. Sehingga ketika mau menyusun Laporan Akhir (D3) atau Tugas Akhir (D4) kita sudh tidak terbebani secara fisik karena kuliah praktek. Selama satu semester biasanya hanya beberapa minggu saja kita full di Bengkel kerja, atau Laboratorium. Meski di bengkel atau Lab, kita juga masih dikasih kelas kok jadi tidak seperti orang Romusha yang kamu bayangkan. Seru deh!

Baca lebih lanjut

KULIAH DI POLSRI ? (Part. 1)

1442332375420

Selamat datang para pencari informasi tentang Politeknik Negeri Sriwijaya…. Tulisan ini memang saya dedikasikan untuk kalian, karna saya tau bagaimana kondisi keingintahuan kalian menentukan masa depan kalian. Pasti pertanyaan yang terbersit adalah Apa beda Politeknik dengan Universitas, Gelar apa yang didapat, Peluang Kerja, Jurusan apa saja, Fasilitas, Biaya, sampai-sampai lokasi kost sekitaran kampus. Baiklah kakak akan membantu kalian *ceilaaah*

PENJELASAN SINGKAT TENTANG POLSRI

Masih ragu sama kualitas Polsri?… Oke, saya akan jelaskan sejarahnya secara singkat. Polsri didirikan bersama dengan 6 Politeknik Negeri lain di Indonesia, hasil kerjasama Pemerintah Indonesia dengan Swiss. Wiiiih, Swiss ! Tapi namanya dulu bukan Politeknik Negeri Sriwijaya, melainkan Politeknik Universitas Sriwijaya, Poltek Unsri. Kebanyakan manusia hingga detik ini masih menyebutnya seperti itu, menyebalkan sebenarnya tapi ribet juga jika harus menjelaskan “Polsri bukan lagi bagian dari Unsri udah pisah bla bla bla”.

Sebagai Pilot Plant dari Politeknik telah dilahirkan Politeknik Mekanik Swiss ITB pada tahun 1976.  Produk dari Politeknik ini sangat menggembirakan karena alumninya terpakai pada industri-industri.  Keberhasilan ini diusulkan dengan perencanaan pengadaan pendidikan Politeknik pada berbagai daerah  di Indonesia.  Dengan   bantuan Bank Dunia ke VII telah dilakukan proyek fase pertama dengan kredit No.869 IND yang mencakup :

  1. Sebuah pusat pengembangan Pendidikan Politeknik yang berkedudukan di Bandung.
  2. 6 (enam) buah Politeknik, masing-masing di USU, UNSRI, UI,ITB,UNDIP dan UNIBRAW.
  3. Pekerjaan fisik dimulai tahun 1981/ 1982 dan telah dapat dipakai pada tahun akademik 1982/1983 pada keenam politeknik diatas. Dengan telah mempersiapkan proyeksi ke depan tentang kebutuhan tamatan Politeknik untuk pembangunan, telah dimulai juga proyek perluasan Politeknik fase kedua dengan bantuan Bank Dunia ke VIII dengan loan 2290-IND meliputi:

*  Perluasan pusat pengembangan Pendidikan Politeknik di Bandung.

*  Perluasan 6 (enam) Politeknik fase pertama.

*  Pengadaan 11 (sebelas)  Politeknik pada :

UNSYIAH, UNAND, UNHAS,  ITS, UNTAN, UNLAM, UNMUL, UNSRAT, UNPATTI, UNCEN dan UNUD.

(Dikutip langsung dari website resmi polsri disini)

Baca lebih lanjut

Generasi Larva: Memulai 100 Tahun Kedua

monday-playlist-indonesia1-679x475

Oleh: Noe Letto (Kompas, 18.05.08)

Salah satu produk populer di ”dunia gaul” dari 100 tahun kebangkitan bangsa kita adalah idiom ”Indonesia banget!”. Bahasa tubuh dan mimik yang mengungkapkan istilah itu mengungkapkan konotasi negatif.

Mungkin sekali saya salah, tetapi sering kali saya merasakan bahwa ”Indonesia banget” adalah kata ganti untuk semacam perilaku negatif, yang sehari-hari atau bahkan untuk kasus-kasus dalam skala yang lebih besar. Misalnya, buang sampah sembarangan, melanggar peraturan lalu lintas, merokok di no smoking area, tidur saat rapat atau sidang, koruptor tak terhukum, umbar janji pemilihan, bahkan pada kasus tertentu: ngiler bisa dikomentari ”Indonesia banget lu!”.

Baca lebih lanjut

Pertanyaan Awam tentang kasus Freeport

HISTORIA MAGISTRA VITAE

Tulisan ini adalah hasil pemikiran pribadi berupa pertanyaan-pertanyaan saya pribadi. Dengan azaz kebebasan berbicara di negara ini. Dan semoga tidak membawa saya ke bui hanya karna menuliskan kegelisahan pribadi. Mohon koreksi karna saya yakin akan ada banyak kesalahan dalam pemikiran dan pemahaman seorang saya.

  • Profil Yang Terlibat

Pada kasus Freeport kali ini banyak sekali tokoh yang terlibah. Setya Novanto, Presiden Jokowi, Wakil Presiden, Presiden Direktur Freeport Indonesia Maroef, Pengusaha Reza Chalid, Menteri ESDM Sudirman Said. Tidak sebegitu kompleks ini sebenarnya, semuanya sudah jelas sekali. Gertakan Amerika apabila kita cabut hak atas tambang di Papua. Baru wacana saja Indonesia sudah bisa diacak-adul seperti ini, itulah yang saya tangkap dari kondisi yang mereka ciptakan saat ini.

Logika saya masih sama, jika Presiden Freeport itu mengatakan di MKD bahwa dia menghormati Setnov, dan itulah penyebab dia mengikuti permintaan setnov untuk bertemu. Kenapa dia berani-berani nya merekam ketika bertemu?. Dia mengatakan itu dengan polos bahwa dia disuruh komisaris ketika selesai diangkat sebagai presiden freeport (atau apalah jabatannya itu) harus menghadap setnov. Dan pernyataan ini aneh? Sebagai seorang yang cerdas dan pimpinan kenapa dia tidak menanyakan sama sekali. Lalu menemui saja setya novanto. Bagi saya ini tidak masuk akal sama sekali. Seperti anak kecil yang disuruh-suruh dan menurut saja, tapi ketika bertemu bisa berkali-kali dan topiknya sampai arbitrase internasional.

Baca lebih lanjut