I WILL NEVER BE GOOD ENOUGH.

Beberapa hari lalu, aku berkesempatan untuk nonton salah satu film yang sedang hangat dibahas di seluruh dunia: Crazy Rich Asian. Filmnya menurutku 8/10. Yang paling aku suka adalah scene dan dialog dimana Rachel Chu menghadapi para karakter yang tidak menyukai dirinya sebagai kekasih seorang Nick Young. Ada satu scene dimana mamanya Nick mengintimidasi Rachel dengan bilang “you will never be good enough to our family”. Kebetulan, kata “good enough” sedang menjadi insecurity terbesarku beberapa bulan ke belakang. Dan tulisan kali ini terinspirasi dari itu.

Setelah belajar bagaimana caranya meredam emosi, tanpa sadar aku ikut meredam kepercayaan diri. Dan itu menjadi hambatan beberapa mimpiku. Selama bekerja, teman-teman dan kolega yang mengenalku cukup baik pasti tau desire yang ku miliki untuk melanjutkan sekolah sangat tinggi dan memang disitulah passionku berada. Keinginan untuk melanjutkan sekolah berasal dari rasa ingin tau yang sudah tertanam di diriku semenjak kecil, orang tua ku selalu menyuguhi suasana rumah yang membuat anak-anak mereka berfikir tentang banyak hal. Mereka jarang memberikan jawaban atas banyak pertanyaan, mereka memberi analogy dan memberi waktu untuk kami mencari tau nya sendiri dulu, baru mereka menyatakan opini mereka. Buku-buku yang selalu ku lihat di rumah, tontonan yang mendidik, itu membuat batinku sedari kecil memahami bahwa dunia ini luas untuk dijelajah dan banyak ilmu yang harus dipelajari untuk mendidik pribadi menjadi pribadi obyektif dan mencoba membantu peradaban untuk menyelesaikan masalah. Dan semua itu harus mengendap cukup lama hanya karna ketidakpercayaan diriku.

Namun, seiring aku melihat dunia dan karakter manusia, aku menyadari bahwa ada banyak pribadi keren diluar sana yang membuatku sangat ingin belajar seperti mereka. Kemudian, aku melihat diriku, wah aku kecil sekali. Sedikit banyak aku pernah mencoba berbincang dengan mereka untuk menakar diriku sendiri. Dan semua tidak pernah meragukan atau meremehkanku, mereka para pribadi keren itu. Hanya saja, aku sendiri yang sering terlalu takut untuk mencoba, dan beberapa individu yang terlalu kompetitif untuk mengakui kemampuan orang lain.

Aku yang dulunya sering menulis, menjadi jarang menulis karna pernah mendapatkan komentar buruk bahwa sebenarnya aku ga punya ‘writer material’. Aku yang dulunya suka berbicara dan berdiskusi, menjadi tertutup dan berhenti berkegiatan social karna pernah dicaci orang-orang yang ku kira keluarga di organisasi. Aku yang dulunya optimis, menjadi pesimis. Dan semua itu salahku karna terlalu terpuruk oleh beberapa orang di dunia ini. Padahal kalau saat itu ada yang menguatkanku untuk tetap kembali menanjak, mungkin tidak seperti ini jadinya.

Ya aku berhasil kembali melangkah, tapi semakin hari aku merasa semakin jauh dari diriku yang sebenarnya. Aku jadi jarang baca buku, jadi jarang baca karya tulis tumblr orang, jadi jarang baca koran, jadi jarang ikut organisasi. Perlahan, aku mulai baca buku lagi, mulai baca quora, mulai terbuka dan berelasi. Gagal itu proses. Aku mencoba puk-puk diriku dengan kalimat itu. Aku pernah gagal, parah malah, tapi masa depan harus disambut dengan percaya diri. Crazy Rich Asian mengingatkanku lagi dengan insecurity itu “am I good enough?”.

Aku sekarang sadar, mereka yang telah berlalu tak akan pernah kembali, biarkan saja. Sekali aku mencoba mengikhlaskan, akan dikirimkan orang-orang baik lain ke hidupku. Aku sekarang sadar, aku berfokus pada mereka yang aku anggap paham diriku tapi menilaiku tidak cukup mampu, padahal ada banyak orang yang tidak terlalu ku anggap dekat malah memberiku semangat dan yakin kalau aku lebih dari mampu.

Selama aku berkerjasama dengan expatriate, mereka memberiku banyak nasihat dan penilaian. Mereka kasih banyak sekali motivasi agar aku meneruskan usahaku. They think I deserve it. Padahal, aku merasa aku biasa saja, kurang malah jika standarnya ialah orang-orang lain. Aku kalah sebelum perang. Hahaha.

Tapi, aku tidak akan pernah cukup dimata mereka yang akan selalu berfikiran negative tentangku. Dan jikalau aku terus berupaya agar terlihat mampu didepan mereka, itu hanya akan membuat diriku lelah dan tidak mencapai apa-apa. Yes, I will never be good enough, but that’s okay, at least I’m making progress. Kita tidak akan pernah bisa membahagiakan semua orang. Tidak semua orang akan berbuat baik terhadap kita. Kita tidak akan pernah dianggap cukup mampu kecuali kita membuktikannya untuk diri kita sendiri. Yang terpenting itu adalah diri kita percaya bahwa diri kita mampu. Beruntung jika kita mempunyai circle yang suportif bisa menambah kepercayaan diri kita.

Kita tau bahwa kita mempunyai kekurangan, maka kerja keras untuk membuat kekurangan itu kekurangan porsi nya dan tingkatkan kemampuan lain sebagai kelebihan. We are all good enough in the end and we deserve the best. Tidak masalah jika tersesat, asal akhirnya mampu menemukan diri sendiri. Standarisasi itu harusnya focus pada dirimu, cukup atau tidaknya itu klise. Aku tau jika dibandingkan dengan orang banyak, aku tidak akan pernah menjadi yang terbaik. Namun, jika dibandingkan dengan diri sendiri, aku jelas yang terbaik!.  We will never be good enough di mata orang-orang yang terlalu berfokus pada kekurangan kita, leave them with their unsettled opinions. Semoga kita yang sedang berkerja keras untuk cita-cita menemukan jalannya, dijauhkan dari para pendengki, dan dipertemukan dengan mereka yang suportif. Aamiin.

 

Iklan

Harap tinggalkan pesan, kesan, bahkan pertanyaan.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s