Berpendapat.

Pertama, terima kasih kepada: UUD 1945 pasal 28E ayat (3). Gue menuliskan ini tanpa tujuan apa-apa dan tidak berniat memanfaatkan keadaan sedikitpun tentang apa yang terjadi baru-baru ini. Gue menuliskan ini dengan ‘cara’ gue, karna ini salah satu metode gue untuk meringankan beban otak gue yang tanpa sengaja ikut berpikir keras tentang nasib negara ini, bising banget sumpah otak gue. Gue ingin menyampaikan pendapat tentang Pencalonan Presiden dan Wakil Presiden untuk Periode 2019 – 2024.

Tahun ini, semua orang udah bisa menebak siapa aja yang akan mencalonkan diri sebagai Presiden. Yang artinya, memang sebagian besar dari rakyat kita sudah meng-iya-kan ketokohan dari kedua sosok yang santer sekali berkeliaran di semua keputusan politik negara ini. Jarang ada yang berfikir bahwa Pak Jokowi dan Pak Prabowo bisa aja ga mencalonkan diri sebagai Presiden, dan Jarang ada yang berfikir bahwa bisa saja Pak Jokowi dan Pak Prabowo bergandengan maju sebagai Presiden dan Wakil Presiden. Karna apa? Karna kita semua menyaksikan dan merasakan aura negara ini selama lima tahun ke belakang. Bahwa ada sosok Jokowi sebagai Presiden, dan ada sosok Prabowo sebagai pimpinan oposisi. Nyata, No doubt.

Sehingga isu paling hangat selama satu tahun ini ialah siapa kandidat wakil dari kedua sosok tersebut, dalam mencari pasangan menurut gue ada 2 hal yang gue highlight. First, apakah sosok ini mencari pasangan untuk melengkapi kekurangannya dan mencari apa yang tidak ada pada dirinya agar sosok ini merasa secara individu, ia lengkap. Second, apakah sosok ini mencari pasangan yang notabene nya akan menjadi ‘wakil’nya berdasarkan apa yang sedang negara butuh, semisal sosok ini dikenal dengan kemampuan dalam isu lingkungan dan beberapa isu lain lalu sosok ini mencari ‘wakil’ yang bisa memiliki kemampuan lain yang sedang Indonesia butuhkan semisal wakil yang kuat dalam ekonomi dan pendidikan.

Luckily, ketika Pak Jokowi dan Pak Prabowo mengumumkan siapa wakilnya gue bisa mendapatkan kedua landasan gue berfikir tadi dipilih. Ini pendapat gue ya. Pilihan Pak Jokowi representative dari Pilihan Pertama, menurut gue beliau sadar bahwa selama hampir satu decade beliau bekerja di politik nasional, banyak yang mempertanyakan “Islam”nya Jokowi. Sebelumnya, banyak sekali keraguan rakyat terhadap beliau sebagai Presiden, dan dengan jujur gue berkata bahwa gue pun pada awal kepemimpinan beliau merasa masih meragukan komitmen beliau dalam membangun infrastruktur. Tapi perlahan, Pak Jokowi dan Team berhasil menepis keraguan banyak pihak tentang kompetensinya. Kita bisa lihat keberhasilan beliau dalam segi Infrastruktur saja contohnya. Namun, satu isu yang selalu menghantui beliau ialah imannya, hal yang klise untuk dilihat oleh Manusia memang. Tapi itulah adanya, pilihan partai koalisi beliau menurut gue berani sekali dengan membawa Pak Ma’ruf Amin sebagai penambal itu.

Terlepas dari 212 yang membuktikan kekuatan umat muslim Indonesia. Pilihan terhadap Pak Ma’ruf Amin menurut gue ya itu tadi, menambal hal yang Pak Jokowi kurang “pegang”. Cawapresnya memang bagi awam minim karir di konstitusi, gue pun baca-baca dan sepanjang gue tau bahwa beliau emang Kiyai, itu tok. Karir beliau di PBNU adalah keputusan seorang Kiyai menurut gue. Ponpes yang beliau pimpin juga terkenal. Apakah ini pasangan Ideal bagi Pak Jokowi? Jawaban gue: Iya. Kalo parameternya ialah “melengkapi kekurangan”.

Selain itu, gue salut sama rasa percaya diri koalisinya Pak Jokowi, yang merasa bahwa dengan memilih satu ciri khas saja untuk jadi wakil bisa memenangkan Pak Jokowi lagi. Maksud gue, ya sorry aja sebagai awam gue cuma taunya Cawapres sebagai sosok berkemampuan agama yang punya jiwa kepemimpinan yang juga pasti cinta Indonesia. Pastilah, Pak Cawapres ini juga punya prestasi, Cuma mungkin gue kurang tau dan media kurang memberitakan. Typical Koalisi yang fokus pada ‘Satu Matahari’ saja, mereka ga perlu ada yang powerful cukup si Presiden aja udah. Sempat terdengar kabar bahwa Pak Mahmud MD akan jadi cawapres, tiba-tiba ga jadi, gokil sih Koalisi Jokowi!. Padahal beliau sosok negarawan dan punya prestasi dari segi konstitusi yang ga bisa diragukan. Apa hal yang membuat mereka tidak memilih Pak Mahfud? Adakah hal yang mereka tidak ingin Pak Mahfud lakukan ketika jadi Cawapres? Hehe.

Ke Pasangan Pak Prabowo dan Pak Sandiaga. Setelah Pak Jokowi mengumumkan pasangannya, gue langsung mengkerucutkan kriteria yang pasti dicari sama Pak Prabowo: Muda atau Pengusaha. Karna kalo dari segi kenegaraan, Pak Prabowo merasa cukup bisa disebut sebagai negarawan bisa dinilai dari kegiatan beliau saat ini. Kalo dari segi keagamaan, udah diambil duluan segi itu sama Pak Jokowi. Ya isu segar yang tersisa untuk menggandeng cawapres cuma melibatkan kaum muda. Kemudian, kemampuan yang dibutuhkan dan kurang dimiliki oleh Pak Prabowo sendiri ialah sector ekonomi menurut gue. Dan Pak Sandiaga Uno memiliki kedua kriteria itu, Muda dan Pengusaha. Pak Prabowo menurut gue mengkombinasikan kedua Highlight gue, mencari yang melengkapi kekurangan kemampuannya dan mencari kemampuan yang Indonesia butuhkan selain isu agama. Ini tidak lepas dari beliau lebih ada waktu membaca situasi dibanding pihak seberang, ia mencari rumusan setelah ada pengumuman lawan.

Gue sih ga percaya sama Isu Pak Sandiaga bayar Mahar buat jadi Cawapres, yang mudah kemakan sama isu begituan mah agak bego aja tanpa bukti. Isu menjijikan memang akan santer ada di masa-masa krusial negara. Jangankan topik uang, topik cewe simpenan aja sering ada. Gue salut sama keberanian Pak Sandi untuk meninggalkan amanah di Wagub Jakarta. Gue sempet berpikir apakah ini tindakan beliau karna ingin ‘lari’ dari hal yang menurutnya akan selesai dengan tidak cemerlang. Tapi dangkal banget dugaan gue itu. Ada energy yang jelas dari Pak Sandi ketika pertama kali terjun ke politik di mata gue: Ekonomi Negara.

Gue mengenali sosok Pak Sandi jauh sebelum beliau terjun ke Politik, beliau terkenal dengan karir bisnisnya. Dan jujur, track record sandi berpolitik lebih gue tau dibanding cawapresnya Pak Jokowi. Tapi bukan berarti gue bakal milik Pak Prabowo loh hahahaha. Gue pernah menyatakan ketidaksukaan gue pada pola politik Pak Prabowo langsung di Instagram beliau, cukup panjang (agak childish emang). Gue merasa arah bergerak beliau sudah jauh berbeda dari aura beliau dulu, yang dulu terkesan “Berani” sekarang terkesan “Pemarah”. Yang dulunya terkesan “Berdikari” sekarang terkesan “Tendensius”. Hal-hal yang membuat banyak pendukungnya berbelok, sehingga setiap langkah Pak Prabowo menjadi buih-buih keraguan bagi banyak pendukungnya untuk bertahan atau berbelok. Hal wajar dalam bernegara sih menurut gue. Makanya, setiap rakyat di bumi ini pasti menuntut pemimpinnya untuk Konsisten. Apakah Pak Sandi adalah sosok cawapres ideal Pak Prabowo? Jawaban gue: Iya. Kalo yang dilihat ialah apa yang sedang Prabowo butuhkan dan Isu segar bagi tanah air.

Isu yang akan menjatuhkan pihak Prabowo nantinya ialah kenapa Cawapres lari dari Wagub DKI?. Tapi ga masalah, Pak Jokowi lari dari Gubernur DKI juga kok. Tapi isu turunannya yang akan lucu, kinerja selama menjadi Wagub pasti akan dinilai. Fair aja menurut gue ketika banyak isu akan muncul, toh ini yang dicitrakan sebagai Demokrasi kan? Hehe.

Gue lebih penasaran sama Politik nya Partai Demokrat, gue mau tau siapa dalang dari Strategi-Strategi Demokrat. Jujur, gue bukan fans demokrat sama sekali. Tapi ketika gue telaah, Demokrat itu pasti punya sosok brilian dibelakang semua langkah politiknya. Ini pendapat bego gue ya. Demokrat itu partai baru banget di pemilu Indonesia dibanding partai besar lainnya, tiba-tiba mereka bisa menang di Pileg dan Pilpres. Gila ga tuh?. Apapun intriknya sih, tapi mereka berhasil jadi Partai Besar dalam waktu singkat. Berhasil bikin SBY jadi Presiden juga, padahal SBY mantan militer loh. Hal yang dulu tabu banget bagi Indonesia setelah rezim Pak Suharto. Briliant banget Mastermind nya Demokrat, asli dah. Kemudian, turbulensi koalisi pada 2004 – 2014 tuh gede gila. Tapi SBY bisa menang 2 periode dan bertahan dengan apik sampe selesai. Setelah SBY selesai memimpin, mereka malah abstain dalam Pilpres, plot twist banget. Ya gue sih mikirnya Demokrat memang merasa terpuruk setelah banyak kader mereka di Legislatif yang menciderai citra anti korupsi mereka, sehingga mereka mau fokus ke Pileg aja dibanding Pilpres pada 2014 lalu. Dan Demokrat menjadi aman-aman aja dengan memasukan Pak SBY langsung disetiap lapisan Dewan di Partai. Gokil. Dan jujur, menurut gue sosok besar Pak SBY akan susah dicari gantinya kalo pada saat itu mereka ngotot majuin calon Presiden dari Demokrat, makanya mereka Cuma siap di level “Wakil Presiden”.

Di Pilpres 2019 ini mereka sudah ga krisis pemimpin lagi, ada sosok AHY yang berhasil jadi angin segar bagi Politik Nasional sebenarnya. Gue sih ga masalah mau AHY anak SBY ataupun istilah Politik Dinasti. Wong Bu Mega aja Anaknya Pak Soekarno kok. Hahahaha. Demokrat jika tidak ikut dalam proses Pilpres kali ini, pasti mereka godog banget deretan Caleg nya, biar perolehan legislatif mereka bisa menang telak, biar 2024 AHY ga perlu sering-sering dijodohin, biar AHY langsung bisa pilih aja gitu hahaha.

Langkah Demokrat mungkin bisa dicontoh oleh Partai Kecil yang baru merintis, tidak memaksakan keadaan, tapi ya juga menurut gue kurang seru sih. Hal yang bikin gue penasaran sama Demokrat ialah, gimana mereka bisa terkesan Santai sekali saat semua pesaing memilih bersekutu satu sama lain. Apa yang membuat demokrat merasa bisa berdiri sendiri dan seolah memperbaiki SDM mereka disaat sebelumnya mereka berkuasa 10 Tahun?. Apakah dengan tidak memihak manapun mereka jadi bisa meminta bantuan kedua belah pihak untuk isu-isu internal mereka?

Tulisan ini gue post sebelum gue tau langkah politik demokrat untuk bergabung di Koalisi Indonesia Kerja atau Oposisi atau bahkan Abstain ya. Untuk Capres dan Cawapres, gue beneran menunggu Visi – Misi kalian, dan bagaimana media-medianya kalian memberitakan pesaingnya karna jujur gue benci hal-hal yang tidak suportif. Semoga Pilpres 2019 ini bisa sedikit lebih baik dalam membuat Isu dan citra pada media, biar pendukungnya pasca Pilpres nanti tidak terlalu terpecah belah seperti pemilu sebelumnya. Agar semua pihak selain belajar bertarung juga belajar legowo sedari diri. Kalau semua beneran Cinta Indonesia bukan Cinta Kepentingan, ya harusnya bisa cinta Damai. Hehehe

Iklan

One thought on “Berpendapat.

  1. agak mengomentari sedikit. aku pernah menulis sebenarnya tentang kemungkinan tertukarnya sebuah pasangan dalam kontestasi politik, hal ini karena dalam politik tidak ada musuh dan kawan yang abadi. tapi sayangnya gak ada poros ketiga, kalau ada poros ketiga netizen tidak akan seramai ini. karena akan ada 3 poros.

Harap tinggalkan pesan, kesan, bahkan pertanyaan.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s