Cerita Gue : (Sok) Beriman

687755e819f81830623eb243937b35d8.jpg

Haaaaiiii…

Setelah hampir setengah tahun gue tidak membuat tulisan di blog ini, akhirnya gue kembali hahaha. Kali ini bahasannya agak sensitif, tentang Keimanan. Weseeeehh, apakah gue akan menuliskan tentang hadist dan potongan ayat Al-Qurán persis makalah jaman di madrasah? Haha. Bukan, ini lebih kepada rasa penasaran dan rasa aneh yang gue alami beberapa waktu kebelakang.

Kalo kalian yang baca ini jaman kuliah adalah orang-orang yang hobi nongkrong di mejid atau mungkin anak LDK, lo pasti pahamlah gimana aura orang-orang yang sepertinya beriman waktu dikampus. Banyak sih, yang gue petik selama kenal dan bahkan bersahabat dengan tipe mahasiswa yang seperti itu. Udah bukan cerita mitos lagi tentang ikhwan dan akhwat yang berujung menikah karena kenal jaman kuliah melalui hal-hal yang berbau islami.

Yang pingin gue sorot dan highlight kali ini ialah kehidupan pasca kampusnya mereka, dan bahkan gue pasca kampus. Gimana sih sebenernya tantangan pasca kampus itu ?. Berhubung kali ini gue mau bahas tentang keimanan jadi gue bakal panjang lebar jelasin itu.

Selama dikampus, lo akan terbiasa liat penampilan mahasiswa cowo yang agamis biasanya dipanggil akhi, atau cewe yang muslimah dipanggil ukhti. Gue udah ga terlalu bermasalah dan udah gam au ikut komentar tentang apa yang sebenarnya orang-orang itu jalani selama dikampus. I deal with it.

Ada banyak cerita yang mau gue ceritain yang semoga aja bisa jadi bahan perenungan  bersama. Pertama, gue mau ceritain dulu junior gue. Eh btw, ini gue nulis bukan berarti gue orang paling baik atau paling bener yak, justru mungkin gue lebih hina dari yang gue ceritain nanti. Gue nulis ini cuma karna pingin share aja. Okey, sebutlah junior gue ini namanya Yani (agak ga 2017 sekali ya, gapapa orang cuma sebutan). Si Yani ini dari awal jadi mahasiswi udah ekstrim berubah dalam penampilan, yaaaap jadi pakai hijab syari dan banyak lainnya. Tapi entah kenapa gue yakin doi ga sebaik penampilannya, mungkin gue udah terlalu sering kenal sama orang yang busuk tapi penampilannya rapih kali ya hahahaha.

Yani ini update di BBM, di Instagram foto tangan cowo nulis nama doi trus pake caption yang seolah menjaga jarak tapi kok dipublish gitu. Karna gue orangnya rese kan ya, gue hubungin temen doi. Gue gerah, asli gerah, liat update yani ini kok sok berasa cantik dan diperjuangkan lelaki gitu. Kalo emang udah ngebet pacaran atau bahkan udah pacaran yaaaudaaaah, Y A U D A H. Ga perlu sih menurut gue untuk dia publish biar orang jadi kagum gitu? Biar orang tepuk tangan? Biar orang peduli? Ewwww.

Si temennya Yani berterima kasih sama gue karna udah mengingatkan, gue pun merasa tugas gue sebagai sesame muslim udah kelar ke Yani ini. Eh ga lama dari situ, doi marah-marah di update-an nya dia, nyindir orang, nyindir senior. Untuk kali itu, gue langsung komentar, gue bilang kalua tingkah dia dan cara dia gitu juga ga lebih baik dari yang disindir kan. Gue langsung chat dan dia minta maaf bahkan berterima kasih karna udah gue ingetin. Tapi, semakin kesini  nih anak kayak punya sindrom gitu, dia menjadi-jadi. Gue udah ga peduli sih, udah sampe ke titik dimana gue Cuma geleng-geleng dan berdoa dia bisa cepat sadar.

Dari kisahnya Yani ini gue menilai bahwa sebenarnya Penampilan, Keimanan, Lingkungan itu semua perlu kita sajikan yang paling Real dari diri kita. Karna yang berhubungan dengan Inside-nya kita itu bakal dinilai Cuma sama Allah, manusia itu fana. Percuma di-eluh-eluh-kan di dunia, serius deh.

Cerita kedua, ini dari temen gue sendiri, mereka yang hobi kumpul satu sama lain dengan cowo – cewe yang katanya “bersahabat karena Allah” dan bahkan udah kayak keluarga. Tapi toh ternyata, sebelum menikah, mereka sudah khalawat online wkwkwk. Geli ga lo bacanya, haha. Dan lagi-lagi gue jatohnya jijik sih. Orang-orang pada kagum mereka yang keliatannya paling baik dari luar dikagumi tentang hubungan mereka. Padahal mah mereka keliru, dan mereka ga ngakuin itu loh. Ngakak sih liat orang Cuma mau publish kebaikannya aja.

Dan cerita terakhir kali ini dari temen gue juga. Cowo sih, panggil aja Abu. Si Abu ini dulunya seperti cowo kebanyakan, nge-band dan punya pacar. Tapi seolah dijemput sama hidayah ketika kuliah, dia berubah malah jadi getol banget ibadah, kalua boleh dibilang dia rising starnya organisasi keislamian. Tapi ketika selesai kuliah, dan kerja. Dia jadi ga singkuh kalo disentuh orang yang bukan mukhrim, bahkan dia chatting menjijikan sama cewe. Awalnya gue udah ingetin ya secara tersirat, kan dia cowo masa iya gue ingetin secara langsung, bisa dikira cemburu gue haha. Eh ga lama dari gue ingetin itu, malah doi sama cewe yang beda lagi. Gue secara jujur lebih ke sedih dan marah aja. Sedih karena sebenernya dia beneran berpotensi jadi orang paling baik. Dan Marah karena menurut gue dia udah mempermaikan perempuan, karena gue kenal kedua cewe itu, dan dua cewe itu beneran merasa ‘disambut’ sama Abu.

Dia malah menyatakan keinginannya untuk Pacaran. Selain dia udah melewati batas penurunan iman dalam hal cinta-cintaan, dia udah melewati batas menghargai perempuan juga sih menurut gue. Sosok Abu yang seorang pemimpin itu pun tumbang setelah lulus kuliah. Tumbang dalam artian, ternyata dunia kerja bikin dia mudah terlena. Semua yang dia pupuk selama kuliah perlahan ga ada manfaatnya ke dia sama sekali.

Gue paham, mungkin dia bosen atau factor lingkungan. Nah ini pelajaran banget banget banget. Bahwa pada akhirnya hanya ada dua pilihan: lingkungan yang mempengaruhi kita atau kita yang mempengaruhi lingkungan. Gue belajar bahwa mau sebesar apapun usaha dan harapan lo untuk orang lain, kalo lo belum bisa handle apapun yang ada di dalem diri lo sendiri semuanya sia-sia. Meski ada pepatah bilang “Ga ada yang sia-sia”, tapi menurut gue untuk hal sejenis ini udah ga bisa lagi ada pengecualiaan. Lo menghalalkan pacaran sama aja lo makan babi.

Sekian, dan Terima Kasih.

Iklan

One thought on “Cerita Gue : (Sok) Beriman

Harap tinggalkan pesan, kesan, bahkan pertanyaan.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s