BAUR

Dewi

RUMIT

Maka maafkanlah aku yang tak akan pernah bisa memiliki kamu yang selama ini ternyata menungguku. Jauh, terlampau jauh satuan-satuan jarak yang harus aku tempuh. Sedang sisa nyali dan tenagaku sudah terlampau habis merindukanmu. Meski kita tak pernah saling berjanji, tapi kita tetap berdiri ditempat yang sama, memandang ke arah yang sama. Rasa Bersalahku padamu sekarang mendampingi Rasa Cinta ini.

Memulai semua hal yang tidak sejalan dengan hati nuranimu pastilah memakan separuh jiwa dan mengurangi kesenangan dunia. Seolah kesia-siaan itu berteman karib dengan hidup kita. Tapi bukankah sebuah makna memang perlu proses agar terdefinisi?. Anggap saja ini proses itu. Agar kita benar-benar tau ini bagian dari perasaan sebelah mana.

Kemurkaan atas sikap tidak tegas telah membawaku sejauh ini, meninggalkan semuanya yang seharusnya aku pertahankan. Tak ada yang  lebih manis dari pada rasa dibersamai dan membersamai sepanjang waktu, selagi butuh. Kalau saja aku memiliki keutuhan sebelum merasa kosong, aku tak akan sebingung ini.

Harap tinggalkan pesan, kesan, bahkan pertanyaan.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s