‘AKHI – UKHTI ZONE’

 

10320531_571976592923130_3843882208168251847_n

Hola!

Kali ini yang ingin saya tulis adalah kegelisahan saya mengenai konsep ‘ke-syariah-an’ yang menjangkiti masyarakat. Tidak masalah jika digunakan dengan benar, semisal perbankan – bisnis – dsb. Tapi, ini menjamah khazanah percintaan. Yap, Percintaan.

Sebenarnya saya sudah lama menyadari konsep yang keliru ini jauh-jauh hari sebelum saya menyandang gelar sarjana. Sebelum saya melanjutkan, mari kita flashback sebentar dimasa saya kuliah.

Saya dikampus sempat ikut sebuah organisasi keagamaan, ya awal-awal kuliah meski lama-lama saya mundur karna lebih merasa tertarik di organisasi lain. Di organisasi keagamaan itu, niat pertama saya karna saya ingin merasakan kembali suasana Madrasah. Mengaji bersama, Membahas sebuah tema setiap minggu, intinya yang tadinya belum baik bisa jadi baik. Tapi, disana yang saya lihat para senior malah lebih erat merangkul ‘orang-orang’ yang sudah terlihat baik. Paham ya maksud saya apa… Terlebih lagi ketika saya melihat logo partai politik di sekretariatnya, sempat mencoba revolusi tapi ketika kita berhadapan sama orang yang membawa agama sebagai tameng kita seolah kafir. Lalu saya hijrah ke sebelah. Tapi tidak dengan memusuhi orang-orang didalam organisasi itu. Saya sampai wisuda pun masih sering mampir disana, dan anehnya beberapa mahasiswa baru kenal saya disana hm…

Oke baik, kembali ke topik. Jadi dulu, ada seorang Kakak Tingkat saya yang begitu mempesona banyak lelaki seantero kampus. Sebut saja Hani, si hani ini bertingkah lucu – imut – kalem (entah beneran atau pura-pura) saya sih awalnya sudah merasa bahwa yang ia tunjukan itu bukanlah ia yang sebenarnya. Hingga tiba suatu ketika, saya yang lagi rajin-rajinnya ke perpustakaan kampus melihat mbak Hani ini dimeja panjang bersebelahan dengan pengurus organisasi lelaki. Saya kenal betul muka abang itu. Saya penasaran, hingga mengetik di laptop pun jadi tidak konsen. Mereka yang di sekretariat saja membatasi diri dengan dinding dari kain agar tak ada interaksi, kenapa bisa duduk sebelahan, mengobrol manja lagi.

Beberapa hari dari situ, saya pulang dari kampus bareng sama salah seorang kakak tingkat di organisasi itu, mbak hani ikut. Jalan kakilah kami dari kampus. Mbak hani ini sudah menangis terisak-isak dari dalam sekretatiat. Mbak satunya menangkan, saya yang masih polos ya diam. Ternyata, tangisan mbak hani itu jadi buah bibir dikalangan kami para junior. Kebetulan beberapa teman kelasku juga ikut organisasi itu. Ada yang mengaku melihat mbak hani dan mas nya makan bareng dikantin kampus sebelah. Ada juga yang lihat mbak nya dan mas nya jalan bareng di trotoar depan kampus. Aku? Aku akhirnya jujur juga melihat. DUAAAR! Sampailah kami pada satu kesimpulan. Mereka Berpacaran.

Hiks, sedih melihat yang harusnya jadi contoh tapi tidak patut dicontoh. Apalagi mengingat beliau selalu marah kalau saya menyapa para ikhwan disekretariat (lah wong mereka temenku toh). Saya pernah memanggil teman saya di sekret sebelah yang laki-laki pun dibilang “kok perempuan sekarang deket banget sama laki-laki”. Huh, rasanya mau saya balikin itu semua ke dia. Setelah mereka lulus, sosial media mereka penuh dengan kode-kode nama satu sama lain. MENJIJIKAN.😀

Nah, ini konsep Akhi – Ukhti zone yang pertama kali saya temui. Dan mengakar hingga kini. Beberapa hari lalu, saya sedang punya janji sekaligus dua. Setelah sibuk sama acara nasional, kami panitia mau refreshing sebentar. Ada junior saya di kampus (meski dia jauh lebih tua) ingin meminta softfile saya selama kuliah. Daripada dua kali kerja, akhirnya saya bilang ketemuan aja disuatu tempat. Tak disangka, rombongan kami yang baru sampai sebuah mall akhirnya memilih untuk nonton saja di bioskop.

Sebut saja adik tingkat saya ini bersama, Sebastian (Widih). Dia ini salah satu junior bukan hanya di jurusan, di prodi, tapi juga di organisasi. Sempat beberapa kali pulang bareng beliau, jadi taulah sedikit banyak cerita hidupnya. Dia sampai ke mall lebih cepat dari dugaan saya. Saya izin sholat maghrib, doi nunggu di bioskop. DI bioskop ternyata filmnya sudah lewat, hancurlah hati saya bersama rombongan. Nah, akhirnya saya kenalin dia ke rombongan, lalu memindahkan file, bincang-bincang basa-basi. Karna kecewa, kami memutuskan untuk Karoke. Saya pun mengajak sebastian, dia yang awalnya ogah, tapi akhirnya ikut juga. Ternyata jiwanya masih belum ‘Ikhwan’ hahaha, nyanyilah dia, saya yang disebelahnya cengo kurang percaya. Berlanjut ke makan malam, serombongan makan diwarung tenda. Lucu-lucuan bareng, bahagia deh. Setelah penat karna acara yang ribet minta ampun itu. Foto-fotolah kami.

Saya pulang bareng Sebastian, karna searah. Sampai rumah pukul 10 malam kalau tidak salah, karna bahagia. Saya upload foto di akun Instagram saya, saya tag satu-satu mereka. Saya tulis di caption bahwa itu foto sementara, si Sebastian juga update profile picture. Tidak ada tanda-tanda membahayakan. Berbalas komentar kami semua di foto itu. Saling follow.

Hingga pada pagi hari, saya mendapatkan notifikasi bahwa ada yang block akun IG saya, daaan itu Sebastian. Merasa bersalahlah saya ini, apa mungkin dia sampai kost ternyata ditutup? Atau dia dapat teguran dari Organisasi Keagamaan itu. Saya sms, saya bbm, dsb. Saya bertanya ke yang lain, para cewe juga di block. Hm…

Hingga akhirnya berbalas sms, sebastian pun follow lagi. Karna jiwa kepo saya tinggi, saya dan teman-teman mencari tau. Sebastian bilang kalau bukan hanya dia yang pegang akun sosial media. Lucu ya?. Saya yang awalnya takut itu ulah kaderpun akhirnya terus cari tau. Ternyata sampai notifikasi, kalau akun tersebut tersinkron dengan satu akun lagi, akun wanita pemirsaaaaaaaaaaaaaa. Jilbabnya punya panjang dua kali lipat dari jilbab saya yang paling panjang. Hahaha. Apa ini wanita yang dulu bikin sebastian ikut Rohis dsb?. Gila, se-aneh itu sampai-sampai memblock akun saya?

Teman-teman pun akhirnya kepo, buanyaaak banget foto-foto dari si Sebastian yang si wanita ini Upload. Nama sebastian, diganti jadi bahasa arab. Untungnya, ilmu membaca huruf gundul saya masih bisa diandalkan. Kami semua merasa jijik. Ahahaha

Iya, ini akhi – ukhti yang paling membuat saya geleng-geleng kepala. Kenapa harus memblock saya? Kenapa?. Akhirnya si Sebastian follow lagi, saya bbm aja kalau saya tau itu mantannya (atau mungkin masih jadian). Dan tidak hanya sampai disitu pemirsa, si wanita malah akhirnya meminta untuk mengikuti IG saya.😀
Setelah berdiskusi dengan yang lain, akhirnya saya approve. Saya dan teman-teman pun akhirnya upload foto yang memancing emosi beliau, hahaha. Dan benar saja, dengan kemampuan spy kami, kami mengetahui bahwa wanita itu kepo akun IG saya. Waduh

Ternyata masih banyak yang akhi – ukhti zone disekitar kita, dan jangan sampai kita terlibat dengan mereka. Kenapa tidak mencoba melepaskan? Toh kalau jodoh, pasti kembali. Banyak kok teman saya yang berhasil berjodoh setelah melepaskan. Saya sih ya, bukan wanita yang punya pesona. Jadi tidak perlu diperingatkan untuk menjaga jarak, orang yang dekatpun sedikit. Paling-paling cowo-cowo temen organisasi, atau adik-adik tingkat yang keranjingan project. Mengutip kata seorang teman lelaki saya “Kamu itu Langka”. Saya mah selow.

Perihal menggenapkan separuh agama itu, bukan prioritas utama. Separuh agama saya saja belum benar-benar separuh, jadi kalau saya paksakan tidak akan pernah genap.🙂

Harap tinggalkan pesan, kesan, bahkan pertanyaan.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s