Memetik Hikmah

Bertepatan dengan ulang tahun blog ini yang ke5. 

11081172_812555408819338_1056930422689205993_n

Kisah yang akan saya bagikan kali ini adalah dari kisah Rasullah. Yang membuatnya istimewa karna ini sama-sama mewakilkan sekali terhadap apa yang sedang saya coba jalani dan penulis artikel yang saya baca tadi. Masih tentang ‘proses berubah’ yang kebetulan dibahan-bakari oleh teman-teman yang menyadarkan saya bahwa mana yang harus dipercaya dan mana yang harus ditinggalkan perlahan.

Karena ya itu tadi, (masih berhubungan dengan beberapa tulisan saya sebelumnya: Dilema Pasca Wisuda , Refleksi Hidup di 21 , I said to myself, let it flow let them go) kita bisa saja dimanfaatkan dan ketika mereka sudah menemukan sumber baru akan ditinggalkanlah kita. Maka dari itu Islam mengajarkan kita untuk bersibuk pada diri sendiri dibanding berkumpul tanpa manfaat (meski kadang kita mencoba mencari-cari manfaat sesuatu yang kita kerjakan).

Beriman itu bisa ditingkatkan oleh banyak pemicu, dan kebanyakan manusia bisa meningkatkan iman karena adanya masalah dihidupnya. Saya sampai hari ini belum menemukan orang yang lebih beriman ketika diberi kenikmatan oleh Allah. Dan saya bersyukur sekali (terus mencoba tulus bersyukur meski syukur tak wajib diucapkan) Allah telah menghadirkan Tantangan itu untuk saya hadapi. Melalui pertemanan yang keliru, yang menancamkan dan menggores luka meski diawali dan dilalui oleh bahagia.

Daripada kepanjangan, ini dia kisahnya.

Di salah satu sudut Masjid Nabawi terdapat satu ruang yang kini digunakan sebagai ruang khadimat.
Dahulu di tempat itulah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalaam senantiasa berkumpul bermusyawarah bersama para Shahabatnya radhiallaahu ‘anhum. Di sana Beliau SAW memberi taushiyyah, bermudzakarah, dan ta’lim.
Suatu ketika, saat Rasulullah SAW memberikan taushiyyahnya, tiba-tiba Beliau SAW berucap, “Sebentar lagi akan datang seorang pemuda ahli surga.“. Para Shahabat r.hum pun saling bertatapan. Di sana ada Abu Bakar Ash Shiddiqradhiallaahu ‘anhu, Utsman bin Affanradhiallaahu ‘anhu, Umar bin Khattabradhiallaahu ‘anhu, dan beberapa Shahabat lainnya.
Tak lama kemudian, datanglah seorang pemuda yang sederhana. Pakaiannya sederhana, penampilannya sederhana, wajahnya masih basah dengan air wudhu. Di tangan kirinya menenteng sandalnya yang sederhana pula.
Di kesempatan lain, ketika Rasulullah SAW berkumpul dengan para Shahabatnya, Beliau SAW pun berucap, “Sebentar lagi kalian akan melihat seorang pemuda ahli surga.“. Dan pemuda sederhana itu datang lagi, dengan keadaan yang masih tetap sama, sederhana. Para Shahabat yang berkumpul pun terheran-heran, siapa dengan pemuda sederhana itu?
Bahkan hingga ketiga kalinya Rasulullah SAW mengatakan hal yang serupa, bahwa pemuda sederhana itu adalah seorang ahli surga. Seorang Shahabat, Mu’adz bin Jabbalradhiallaahu ‘anhupun merasa penasaran amalan apa yang dimilikinya sampai-sampai Rasul menyebutnya pemuda ahli surga?
Maka Mu’adzradhiallaahu’anhu berusaha mencari tahu. Ia berdalih sedang berselisih dengan ayahnya dan meminta izin untuk menginap beberapa malam di kediaman si pemuda tersebut. Si pemuda pun mengizinkan. Dan mulai saat itu Mu’adz mengamati setiap amalan pemuda tersebut.
Malam pertama, ketika Mu’adz bangun untuk tahajud, pemuda tersebut masih terlelap hingga datang waktu shubuh. Ba’da shubuh, mereka bertilawah. Diamatinya bacaan pemuda tersebut yang masih terbata-bata, dan tidak begitu fasih. Ketika masuk waktu dhuha, Mu’adz bergegas menunaikan shalat dhuha, sementara pemuda itu tidak.
Keesokkannya, Mu’adz kembali mengamati amalan pemuda tersebut. Malam tanpa tahajjud, bacaan tilawah terbata-bata dan tidak begitu fasih, serta di pagi harinya tidak shalat dhuha.
Begitu pun di hari ketiga, amalan pemuda itu masih tetap sama. Bahkan di hari itu Mu’adz shaum sunnah, sedangkan pemuda itu tidak shaum sunnah.
Mu’adz pun semakin heran dengan ucapan Rasulullah SAW. Tidak ada yang istimewa dari amalan pemuda itu, tetapi Beliau SAW menyebutnya sebagai pemuda ahli surga. Hingga Mu’adz pun langsung mengungkapkan keheranannya pada pemuda itu, “Wahai Saudaraku, sesungguhnya Rasulullah SAW menyebut-nyebut engkau sebagai pemuda ahli surga. Tetapi setelah aku amati, tidak ada amalan istimewa yang engkau amalkan. Engkau tidak tahajjud, bacaanmu pun tidak begitu fasih, pagi hari pun kau lalui tanpa shalat dhuha, bahkan shaum sunnah pun tidak. Lalu amal apa yang engkau miliki sehingga Rasul SAW menyebutmu sebagai ahli surga?
Saudaraku, aku memang belum mampu tahajjud.
Bacaanku pun tidak fasih. Aku juga belum mampu shalat dhuha.
Dan aku pun belum mampu untuk shaum sunnah.
Tetapi ketahuilah, sudah beberapa minggu ini aku berusaha untuk menjaga tiga amalan yang baru mampu aku amalkan.
Amalan apakah itu?
Pertama, aku berusaha untuk tidak menyakiti orang lain. Sekecil apapun, aku berusaha untuk tidak menyinggung perasaan orang lain. Baik itu kepada ibu bapakku, istri dan anak-anakku, kerabatku, tetanggaku, dan semua orang yang hidup di sekelilingku. Aku tak ingin mereka tersakiti atau bahkan tersinggung oleh ucapan dan perbuatanku.
Subhanallah. Kemudian apa?
Yang kedua, aku berusaha untuk tidak marah dan memaafkan. Karena yang aku tahu bahwa Rasullullah tidak suka marah dan mudah memaafkan.
Subhanallah, lalu kemudian?
Dan yang terakhir, aku berusaha untuk menjaga tali shilaturrahim. Menjalin hubungan baik dengan siapapun. Dan menyambungkan kembali tali shilaturrahim yang terputus.
Demi Allah…engkau benar-benar ahli surga. Ketiga amalan yang engkau sebut itulah amalan yang paling sulit aku amalkan.”
Manusia akan terus diuji sebagai metode pencarian amal di dunia ini. Saya berterima kasih masih banyak orang-orang yang lebih bisa saya sebut Sahabat dibanding orang-orang yang selama ini saya keliru melebelinya.🙂
Artikel tempat saya mengambil kisah tersebut di blog mbak gita.

Harap tinggalkan pesan, kesan, bahkan pertanyaan.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s