Pertanyaan Awam tentang kasus Freeport

HISTORIA MAGISTRA VITAE

Tulisan ini adalah hasil pemikiran pribadi berupa pertanyaan-pertanyaan saya pribadi. Dengan azaz kebebasan berbicara di negara ini. Dan semoga tidak membawa saya ke bui hanya karna menuliskan kegelisahan pribadi. Mohon koreksi karna saya yakin akan ada banyak kesalahan dalam pemikiran dan pemahaman seorang saya.

  • Profil Yang Terlibat

Pada kasus Freeport kali ini banyak sekali tokoh yang terlibah. Setya Novanto, Presiden Jokowi, Wakil Presiden, Presiden Direktur Freeport Indonesia Maroef, Pengusaha Reza Chalid, Menteri ESDM Sudirman Said. Tidak sebegitu kompleks ini sebenarnya, semuanya sudah jelas sekali. Gertakan Amerika apabila kita cabut hak atas tambang di Papua. Baru wacana saja Indonesia sudah bisa diacak-adul seperti ini, itulah yang saya tangkap dari kondisi yang mereka ciptakan saat ini.

Logika saya masih sama, jika Presiden Freeport itu mengatakan di MKD bahwa dia menghormati Setnov, dan itulah penyebab dia mengikuti permintaan setnov untuk bertemu. Kenapa dia berani-berani nya merekam ketika bertemu?. Dia mengatakan itu dengan polos bahwa dia disuruh komisaris ketika selesai diangkat sebagai presiden freeport (atau apalah jabatannya itu) harus menghadap setnov. Dan pernyataan ini aneh? Sebagai seorang yang cerdas dan pimpinan kenapa dia tidak menanyakan sama sekali. Lalu menemui saja setya novanto. Bagi saya ini tidak masuk akal sama sekali. Seperti anak kecil yang disuruh-suruh dan menurut saja, tapi ketika bertemu bisa berkali-kali dan topiknya sampai arbitrase internasional.

Ketika ada fraksi yang meminta rekaman di validasi terlebih dulu, tapi tidak dijadikan sorotan di sidang. Ini hal aneh lain, padahal jelas yang dilawan ini Asing, tekhnologi mereka sudah jauh lebih maju. Hal mudah bagi mereka untuk memanipulasi rekaman. Tapi rekaman itulah yang menjadi barang suci di persidangan. Lucu sekali pejabat negara ini. Hal-hal ini tidak dibahas ke publik, sengaja sekali.

  • Kiprah dan Ulah Setnov

Setya Novanto sudah sering dituding bahkan dimintai keteranganya di KPK dan Tipikor untuk beberapa kasus, dimulai dari kasus Bank Bali kemudian dilanjut lagi dengan kasus di Riau, hingga kasus Freeport sekarang ini. Namun, sorotan publik yang paling membuat publik membangun citra buruk terhadap Setnov ialah ketika lawatan beliau ke Amerika dan menemui Trumb. Jelas saja, media milik para pesaing partainya membuat ini seperti isu nasional yang menjual harga diri negara (katanya). Padahal, isu di timur indonesia masih banyak, perekonomian masih labil, tapi lagi-lagi kepentingan politik membawa ini menjadi bahan bacaan, tontonan, dan pembicaraan satu bulan lebih di Indonesia.

Padahal, kunjungan itu pun terlihat sekali tak ada hal istimewa dan seperti lawatan menemui tokoh sebuah negara saja terlepas dari track record Trumb. (ini pendapat saya) kan bisa saja saingan politik trumb sedang tidak bisa temui pula?. Tapi ini bukan topik di tulisan saya kali ini. Freeport sudah membuat saya geram hingga ke ubun-ubun. Tingkah pola mereka membuat indonesia kacau sekarang ini seolah memainkan menteri dan benteng pada permainan catur yang melawan indonesia dengan sisa pion yang melindungi raja. Miris.

Apalagi ketika sidang MKD memintai pernyataan terhadap Menteri ESDM saat ini, Sudirman Said. Banyak celotehan di twitter yang seolah menjadikan Sudirman Said sebagai orang yang patut dibela. Banyak orang yang menyalahkan MKD seolah melindungi Setnov. Logikanya kan mereka sesama anggota dewan yang lembaganya sedang dipertaruhkan di mata publik melawan Freeport dan sekutunya.

  • Freeport dan Mahakam

Saya akan sedikit membahas mengenai perjuangan Kedaulatan Energi yang saya dan teman-teman selama kurang dari 3 tahun ini perjuangkan. Karena begitu luasnya ranah energi, kami selama ini memang hanya berfokus dulu di bidang Migas, maka dari itu kami mulai menjalin komunikasi yang masif kepada pihak pertamina selaku BUMN yang membidangi. Diskusi dan jejak pendapat sering kali kami lakukan di Palembang bahkan sampai ke Jakarta menemui Presiden SPP dsb. Dari sinilah saya mulai mengendus bagaimana penjajahan asing terhadap aset Indonesia memang sukar dihilangkan. Perjuangan terhadap nasionalisasi Blok-Blok migas Indonesia yang terbentang dari ujung sampai ujung di RI ini saja butuh beberapa kali turun aksi agar didengarkan. Bedanya kasus nasionalisasi Freeport dan Blok Migas?. Jelas, Pertamina memang sudah sangat siap untuk mengambil alih pengelolaan. Sedangkan untuk tambang di papua BUMN kita belum bisa dibilang sesiap Pertamina. Itulah yang menjadi modal Freeport untuk menyombongkan diri mereka agar tetap mengelola tanah papua.

Selama berpuluh tahun, RI tidak bisa mengelola Tambang disana. Sudah bukan rahasisia lagi betapa kayanya tanah papua. Bahkan isu yang disebarkan pihak amerika adalah keinginan rakyat Papua untuk merdeka, kalau kalian semua masih ingat beberapa kasus yang terjadi di Papua untuk pembebasannya?. Salah satu keluarga saya pun tertembak dan meninggal ketika bertugas sebagai polisi. Ini kan aneh? Rakyat yang disebut-sebut ingin merdeka dari Indonesia karena tidak adanya kemerataan pembangunan kok ya bisa memiliki senjata api dan mencoba menembaki wilayah freeport?. Bagi saya ini lucu, dan yang ditembaki mereka pun adalah polisi Indonesia yang berjaga, Karyawan Freeport yang juga orang indonesia?. See, mereka tidak membenci asing?. Aneh kan?.

  • Freeport dan perpanjangannya

Penyerahan blok Mahakam kepada Pertamina memang sampai sekarang masih belum resmi, namun berbagai lobby dan kesepakatan sudah menunjukan titik terang. Lalu perjuanganpun dialihkan ke blok lain. Meskipun wacana mengatakan sudah minim sekali sumber daya yang bisa dieksplor di blok-blok migas itu. Tapi kok kenapa Total, Inpex dan kawan-kawannya itu masih mau memperpanjang kontrak kalau memang sudah tidak ada lagi yang bisa dieksplor?. Kan ini logika sederhananya.

Begitupun ketika freeport sekarang ini, alasan sudah minim sumber daya itu akan tidak rasional jika dipakai. Jadi apa yang bisa membuat freeport memperpanjang kontrak?. Setelah kekuatan logika dan sains tidak bisa lagi dimanipulasi?. Ya via politik. Sudah sering kan melihat ulah Amerika utak atik negara orang bahkan sampai menembaki orang yang tidak bersalah?. Nah, ini pun secara halus dilakukan di RI saat ini. Hanya Amerika yang berani membawa presiden dalam sebuah masalah bisnis. Inikan sebenarnya Cuma bisnis. Pada saat Total dan Inpex melakukan siasat tidak selicik ini. Amerika berhasil melihat celah ke-kurang-harmonisan yang terjadi antara Legilatif dan Eksekutif di Indonesia. Dan membuat drama sekonyol ini saat ini.

  • Renegosiasi

Renegosisasi memang 2019 baru bisa mulai dilakukan, dan itu artinya pihak-pihak yang akan memutuskanpun bisa saja berubah sewaktu-waktu. Saya ingin menyoroti. Perihal Menteri ESDM, ketika nasionalisasi blok migas tentu ESDM akan sangat dituntut untuk pro rakyat. Dan terbukti saat ini siapa yang mendekam di bui. ESDM harusnya lebih mendukung pemerintahan negaranya (terlepas dari baik buruk). Karena ini tentang Kesatuan sebuah negara. Tapi yang terlihat saat ini ialah, Media terlalu menyoroti seorang Setya Novanto sebagai seorang yang bersalah mencatut nama presiden, meminta saham, dsb. Padahal jelas sekali dibuat disana posisi presiden tidak dimintai keterangan apapun. Ya benar saja, dia sedang berkuasa. Yang dijadikan malaikat ialah Sudirman Said yang mengadukan ini ke MKD. Buat apa? Tentu sebelumnya Sudirman Said sudah bertemu dengan pihak freeport buktinya saja sudah ada di tangan sudirman said. Aneh kan?. Kemungkinan persekongkolan antara penjajah dengan kacungnya sudah jelas terlihat.

  • ESDM dan Freeport akrab?

Hal aneh bagi seorang saya ketika tau bahwa ESDM melaporkan Setnov dengan headline “Mencatut nama Presiden”. Lucu!. Sedangkan Jokowi saja adem ayem dengan ini. Seolah membiarkan tangannya bersih. Pihak-pihak dibawahnya pun melindungi dengan media-media yang mereka punya. Mari kita cermati ini dari Transkrip, disitu banyak kalimat yang juga menandakan bahwa Presiden Freeport Indonesia, Pengusaha Reza pun niatnya ‘main belakang’ tentang kontrak perpanjangan. Bahkan dengan tegas mengancam akan menurunkan jokowi jika tidak diperpanjang. Nah, ini bagi saya barulah sebuah penghinaan. Jikalau sebuah dialog antar telefon dan menyebut nama presiden saja disebut penghinaan apa jadinya tukang ojek yang berbicara negara di pangkalannya? Menyebut nama presiden juga toh?. Yang jadi bedanya adalah, ketika dialog itu direkam dan disebar luaskan.

Bagi saya, tetap musuh dari kedaulatan energi negara ini adalah Kementrian ESDM yang sekarang sedang gencar mencitrakan dirinya sebagai malaikat anti suap. Tapi bagi saya ini agak kurang rasional, kenapa bukti Freeport ada di beliau kalau sebelumnya tidak ada pertemuan?. Lalu kenapa dia terlihat lebih condong membela freeport dan membuat dirinya begitu tak berdaya di MKD padahal beliau sendiri yang berjalan melaporkan setnov. Kan ini keanehan lain dari kasus ini.

  • Sejarah penyadapan dan perekaman di politik indonesia

Masalah penyadapan, dan perekaman di politik Indonesia itu sudah kasus basi. Masih ingat rekaman Nazarudin?. Lalu Australia yang menyadap Pak SBY dkk?. Bagi saya ini jelas menghina dan melecehkan indonesia. Kalau saya jadi setnov saya jelas merasa ini penghinaan. Nah masalahnya, rakyat Indonesia sudah terlanjur sentimen negatif terhadap setya novanto. Padahal bagaimanapun dia masih pejabat negara yang harus dihormati. Ibaratnya dia pemimpin negara ini yang sedang dilecehkan dengan direkam. Sama saja dengan kasus pak SBY dulu yang membuat kita satu negara merasa geram.

Hal lain yang ingin saya soroti ialah, negara-negara ‘berkuasa’ lah yang berani melakukan hal semacam penyadapan dan perekaman terhadap petinggi negara. Amerika sekali. Dan lagi-lagi luput dari pola pikir masyarakat Indonesia yang terlalu asik digiring pemahamannya karna benih kebencian terhadap Setnov. Dilematis bukan?.

  • Pola Pikir masyarakat yang digiring

Pola pikir masyarakat yang digiring dengan mudah ini bisa dilihat dari media-media, misalnya Kompas, CNN, dll. Sorotan mereka berbeda terhadap kasus ini. Bisa dilihat dari judul yang mereka pilih. Ada media yang dengan lugas dan apik mencoba netral, ada yang membahasnya dari sisi etika, dan ada juga media yang sangat terlihat menyudutkan Indonesia dan membela Amerika.

Jika kita sadari, masyarakat sedang dibuat memuja Sudirman Said sehingga nanti apapun yang dilakukan menteri ini akan jadi hal baik. Seperti KPK versi Individu. Bahaya ini, karena dia individu yang akan susah diawasi, beda dengan KPK yang merupakan lembaga. Apalagi dengan jabatan dan kedekatannya dengan asing yang bisa membuatnya berlaku apa saja terhadap aset negara ini.

Sekarang sadar tidak sadar, inilah yang terjadi. Freeport bisa dengan mudah memasuki segala ranah yang mereka mau. Sedang kita Indonesia, menginjakan kaki di lokasi mereka di Papua saja susah setengah mati, no camera dll. Tidak terbalik? Harusnya negara inilah yang berkuasa atas apapun yang ada di teritori nya.

  • Sejarah Penjajah, Sekutu, dan Ksatria

Saya akan menutup tulisan ‘sok tau’ saya ini dengan membawa kita semua mengingat sejarah. Dulu, jamannya sebelum Bung Karno hingga kemerdekaan tercapai pejabat negara ini jelas sekali lebih memilih miskin, diasingkan, bahkan mati dibanding harus takut terhadap penjajah. Mereka Ksatria bagi negara, apapun konsekuensinya. Karena kita harus berdaulat jika mau merdeka. Berbeda terbalik dengan kondisi saat ini. Banyak pejabat yang seolah Ksatria padahal menjadi antek Penjajah!. Mereka lebih memilih keuntungan yang tidak pro rakyat. Membela asing dan tanpa sadar asing akan menjajah Indonesia dengan halus menggunakan mereka. Tanpa harus mereka turunkan bom ke negara ini untuk perang, negara ini sudah perang melawan bangsanya sendiri.

Jaman dulu, Indonesia itu bersatu padu untuk melawan. Tapi sekarang, sibuk mencari kesalahan satu sama lain yang tentu akan ditemukan karna hakikat manusia adalah bebuat salah. Dengan sedikit polehan tekhnologi penjajah, ditambah angle yang bagus dari media. Terciptalah pepatah “sekali dayung, 4-5 pulau terlampaui”. Dollar naik, Sudirman Said jadi malaikat, politik ruwet, rakyat respect terhadap freeport karna anti suap, dan isu-isu nasionalisasi jadi takut muncul di permukaan.


Mohon Maaf, dan Terima Kasih.

 

Harap tinggalkan pesan, kesan, bahkan pertanyaan.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s