Analogi Untuk Generasi Kini

 

independent-thinking-steps

Tulisan kali ini adalah tulisan yang menurut saya cukup menyegarkan untuk dijadikan penghantar. Saya hanya meneruskan dari Suara Merdeka tanggal 22 April 2015. Berisi pemikiran Mas Sabrang (Noe Letto). Silahkan dibaca dan dipahami.


MUSISI Sabrang Mowo Damar Panuluh atau yang akrab disapa Noe memiliki deskripsi generasi muda dalam sebuah analogi monyet. Vokalis grup band Letto ini menggambarkan generasi pemuda seperti sekawanan monyet.

Dikisahkan dalam sebuah kandang terdapat lima ekor monyet. Di kandang itu diletakkan tangga yang diberi pisang di atasnya. Ketika satu ekor monyet naik dan mengambil pisang, yang lain terguyur air hingga basah kedinginan. Tidak terima, yang lain memukuli monyet yang berusaha naik.

Ketika lima ekor monyet dikeluarkan dan diganti yang baru, terjadi peristiwa serupa. Ketika seekor monyet naik, empat lainnya terguyur air dan kedinginan. Tak terima, empat monyet lain pun memukuli temannya yang naik. Ketika monyet diganti lagi, tak ada satu pun monyet yang berani naik tangga.

Sebab ketika ada yang hendak naik, temannya yang lain langsung menyeret dan memukulinya. ”Jika bisa bicara mereka mungkin bilang : Enak saja kamu naik dapat pisang, kami di bawah basah kuyup kedinginan,” kata Noe.

Generasi Baru

Begitu seterusnya hingga tak satu pun monyet yang bisa mengambil monyet. Tabiat monyet itu pas menggambarkan sosok generasi muda sebagai generasi baru.

Memberi orasi kebangsaan pada pelantikan pengurus DPD KNPI Kudus periode 2015-2018, Senin (20/4), putra budayawan Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) mengatakan ada tiga tipe generasi baru. Pertama, generasi penerus yang hanya bisa meneruskan apa yang sudah dilakukan generasi lama.

Tanpa tahu apa yang terjadi, kesulitan apa yang dihadapi. Mereka tak pernah belajar. ”Yang penting kemarin seperti itu, sekarang ya sama seperti itu,” katanya. Mengutip ucapan Proklamator RI Bung Karno, Noe mengatakan, kemerdekaan adalah jembatan emas. Tapi jembatan emas itu membawa dua jalan.

Yang satu sama rasa sama rasa, lainnya sama ratap sama tangis. Generasi muda kedua adalah pendobrak. Generasi pendobrak dianalogikan sebagai mereka yang selalu tidak setuju, selalu mengkritik. ”Isine ra trimo terus (selalu tidak terima – Red). Mereka semangatnya tinggi, tapi tidak pernah diarahkan dengan pengetahuan,” katanya.

Penerus Cita-cita

Generasi terakhir yaitu para generasi pembaharu. Yaitu mereka yang mau diuji. Sebab setiap generasi pasti memiki tantangannya sendiri.

Setiap generasi pasti memiliki cara menjawab tantangan tersebut. Jika caranya benar, maka perlu diteruskan, jika salah diganti dengan cara yang tepat. ”Sekarang, berani tidak pemuda atau generasi baru ini mengganti apa yang salah dan meneruskan yang sudah benar,” katanya dihadapan pengurus KNPI Kudus.

Menurut Noe, generasi penerus adalah generasi yang meneruskan cita-cita pendahulunya. Bukan generasi yang meneruskan cara-cara pendahulunya. Karena itu generasi baru harus paham apa yang dicitacitakan generasi lama. Jika tidak, maka generasi barua tak ada bedanya dengan monyet di dalam kandang tersebut. (Saiful Annas-44)

Tulisan asli di disini

Artikel lain yang bisa menjadi bahan bacaan, masih buah pemikiran Mas Sabrang bisa dilihat disini

Harap tinggalkan pesan, kesan, bahkan pertanyaan.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s