Dilema Pasca Wisuda

A Mighty Girl is the world’s largest collection of books and movies for parents, teachers, and others dedicated to raising smart, confident, and courageous girls

Imma mighty girl

 

Setelah berjalan dengan terseok-seok karna sakitnya dikhianati oleh orang-orang yang gue percaya banget, gue pun akhirnya tumbang dan jatuh sakit. Baru kali ini gue ngerasa kok gue penyakitan gini, menyedihkan kalo dipikir-pikir. Akhirnya gue mencoba sugesti diri gue sendiri kalo gue udah gede, dan udah 21 tahun. Saatnya bagi Mona Khoirunnisah S.ST untuk melanjutkan hidup dan mewujudkan cita-cita. Kemudian semangat mencari kerja gue pun membara, menyala-nyala, berapi-api, dsb. Gue yang ga pernah kepikiran foto close-up pun akhirnya foto, meribetkan diri gue sendiri dengan pake heels, pake setelan ibu-ibu dosen, bawa alat make up, yah begitulah. Setelah proses foto, gue pun buat akun di website pencarian kerja. Niat kan?

Gue sign up di dua website yang menurut gue cukup credible dan lay out nya keren hahaha. Gue perbaiki akun LinkedIn gue (meski ga baik-baik amat), gue connect ke grup construction. Dan singkat cerita sosial media pencari kerja gue ready. Gue apply dengan keragu-raguan, yaaaaa karna gue ga pernah tau nama-nama perusahaan itu sekalinya ada perusahaan yang gue kenal gue nya yang minder untuk Apply.

Padahal kalo gue pake logika gue, gue memenuhi kriteria toefl gue punya, toeic gue punya, IPK gue punya, yang ga gue punya adalah Keberanian Mencoba. Gue akui memang untuk hal ini gue pengecut, gue kebanyakan observasi contohnya gue sibuk tanya sana sini. Gue nanya ke kakak tingkat, ke temen yang juga cari kerja (yailah ditakut-takutin lo kan saingannya saaa bego deh), ke blog orang yang nulis artikel fresh graduate teknik sipil. Segala observasi gue lakukan sambilan apply ke perusahaan-perusahaan kecil yang menurut gue kemungkinan gue diterima lebih besar. Ternyata NIHIL.

Sempet dapet e-mail gue masuk short listed candidate, udah bangga dong. Eh, ga ada kabar…. Begitu seterusnya gue di PHP, sampe ada yang telfon katanya butuh drafter cepat karna info dari kakak senior gue, udah sampe disuruh kirim cepetlah lamarannya tapi ternyata HRDnya ngehe karna doi nelfon gue dan ga sempet gue angkat. PHP lagi PHP lagi.

Dan sampe akhirnya gue fokus sama kehidupan gue sebagai sulung yang harus menjaga kedua adik gue persis tahun-tahun sebelumnya, lagi-lagi karna ibu dan ayah  gue ada kerja di Ibu Kota. Bedanya kali ini adalah gue ga ada kesibukan, persis ibu rumah tangga. Gue bangun, beresin rumah, nyuci pake tangan, cuci piring, nyapu, ngepel, beresin lemari, dll. Naaah, somehow gue menikmati banget. Ada rasa lega dihati gue ketika gue bisa duduk santai sendirian karna rumah ditinggal kedua adik gue sekolah. Gue bisa menatap cahaya matahari yang menerobos jendela kamar gue, aaaasik.

Trus jadinya gue keseringan mikir, merenung, memahami. Mungkin emang Allah lagi bikin gue memiliki kesempatan untuk memperbaiki sisi ‘Calon Ibu’ di diri gue yang selama ini kagak pernah gue jamah. Dan ternyata menyenangkan juga. Manage uang, Baca buku, Nonton TV, liatin Instagram artis.

Tapi karna kebanyakan waktu luang, pikiran negatif terus memaksa masuk ke otak gue. Apalagi liat recent update BBM, updatean instagram, dll itu. Gue merasa iri sama orang yang punya keluarga di instansi tempat gue pingin mengabdi, gue merasa jengkel sama orang yang kerja sosial tapi diumbar di media sosial, gue ga ngerti lagi lah sama pola pikir orang. Dan pikiran paling negatif yang gue sempat miliki adalah ‘Gue yang Terkucilkan’, gue udah siapin segala kemungkinan ketika kuliah, gue ikut organisasi sana sini dan total, gue belajar bahasa inggris dan ambil seritifikat, gue sertifikasi keahlian, HEEEEEYYY gue punya kapasitas. Dan kapasitas itu yang bikin kaliamat “lo kok ga kerja?” jadi amat lebih menyakitkan.

Apalagi kalo gue inget-inget PHP beasiswa Jerman dari kampus gue itu. Menyebalkan sekali dan membuat semangat gue untuk lanjut studi jadi beneran lenyap. Ditambah lagi sesuatu yang terjadi di keluarga gue, yang beneran bikin kapal rumah tangga ini jadi serasa berlayar di badai selama 2 tahun belakangan membuat kemungkinan gue dibiayai master meski Cuma di Palembang aja jadi sebuah ketidakmungkinan. Hingga akhirnya, Ayah dan Ibu yang kekeuh banget pingin gue jadi PNS menganjurkan gue untuk jadi karyawan di sebuah universitas negeri di kota gue tercinta ini biar ujuk-ujuknya bisa jadi Dosen. Gue sebenernya diterima, tapi gue nya yang belum bisa terima. Jenjang karir yang belum jelas, kemampuan gue yang gue kira ga ada jalurnya disana, masa muda gue yang pingin gue kenang dengan keren bakal terancam. Ya Allah dilematis sekali.

Sampe detik gue upload tulisan ini pun, isi otak sama hati gue masih belum sinkron, situasi yang juga mencekam, dan keputusan belum boleh diambil. Yaaak haruskah gue begitu menikmati dilema ini?. Semoga cepat berlalu.

 

Tertanda, seorang sarjana muda yang di PHP masa depan tapi mencoba mengalahkan kejahatan. *apasih*

One thought on “Dilema Pasca Wisuda

  1. Ping-balik: Memetik Hikmah | HAGANIKU

Harap tinggalkan pesan, kesan, bahkan pertanyaan.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s