Refleksi Hidup di 21 Tahun

hijab_and_balloon_by_sirimran-d8ssvge

21

Another beginning.

Alhamdulillah akhirnya usia saya 21 tahun. Allah telah memberikan kesempatan saya bertemu lagi dengan tanggal 2 november untuk kesekian kalinya, dan semoga terus bisa bertemu. Saya ingin menuliskan ini sebagai bentuk perenungan saya sendiri di hari kelahiran.

MASA LAMPAU

Aku adalah cucu pertama dari kedua keluarga besarku, jadi wajar bila kelahiranku ditunggu-tunggu oleh mereka setelah 2 tahun pernikahan Ibu dan Ayah. Menurut Ibu, aku berada dikandungan hampir 10 bulan atau bisa lebih (karna ilmu kedokteran dulu tidak semukhtahir sekarang). Meski ibu sudah control di Rumah Sakit Swasta bergengsi seantero kota Palembang pada waktu itu. Iya, aku lahir dengan fasilitas dari Pertamina, aku dilahirkan di Rumah Sakit Pertamina Plaju Palembang.

Karena kehamilan ibu yang melebihi waktu normal, ibu sudah harus di-induksi istilah kedokteran untuk memaksa atau merangsang bayi agar lahir. (wah, aku kenapa betah di rahim ibu ya). Setelah berjam-jam penuh penderitaan aku masih tidak lahir, dan dokter pun sudah mulai menyiapkan ruang operasi. Mereka beranggapan cara terakhir ialah dengan Operasi, tapi akhirnya aku pun berniat keluar dan menghadapi dunia hehe. Aku lahir dengan berat 3,6 Kg kata ibu entah kenapa sekarang aku kurus sekali.

Nama yang diberikan padaku pun beragam, hingga dijatuhkanlah nama awal MONA dari bahasa asli suku komering yang artinya “Pertama”, disusul nama akhiran KHOIRUNNISAH dari bahasa arab yang artinya “Wanita Yang Baik”. So, arti namaku adalah Wanita Pertama Yang Baik. Jadilah sekarang aku menopang nama dengan makna sebaik itu seumur hidupku.

APA YANG TELAH AKU KERJAKAN

Aku berfikir keras di ulang tahun ini, karena memang sedang tidak terjebak situasi apapun. Sudah tidak sedang berkuliah, tidak ada amanah organisasi, dan belum mulai berkerja. Jadi aku bisa merenung seharian seperti pada ulang tahunku sebelumnya. Pertanyaanku seputaran

Aku sudah kasih apa untuk negara ini? Selain bayar pajak KFC, bayar pajak Mini Market, Ga coret-coret fasilitas umum, haaaaa apa hal yang benar-benar bisa Indonesia banggakan dariku selama 21 tahun menumpang di sebagai warga negara asli.

Aku sudah kasih apa untuk Ibu dan Ayah? Untuk adik-adik?. Selain wisuda dengan caumlaude sesuai dengan jurusan yang mereka pilihkan, di kampus yang mereka pilihkan, menuruti larangan mereka, dan masih banyak lagi. Aku masih belum bisa membanggakan mereka didalam lingkup society yang lebih luas.

Aku sudah kasih apa untuk sahabat, teman, lingkungan, Agama? I need to take a long way more than before.

MASA DEPAN

Merasa haru sekali, dapat berbagai ucapan dari orang yang baru kenal atau haru karena mereka yang begitu berharga bagiku di ultah tahun lalu malah tidak mengucapkan apa-apa. But, it’s okay. Segitu banyaknya perhatian positif kok aku masih harus berfikir yang negatif ya kan?.😀

Memang ga ada kejutan di tahun ini, ngga kayak tahun lalu. Tapi, barusan aku dikasih hadiah Tas dari Ibu (memang bukan tipe ku) tapi aku bahagiaaaaaaaaaaaa… Satu pelajaran lagi untuk gadis yang sudah sarjana ini “Menghargai usaha orang lain.”

Well. Here I go. 21 tahun. Semangat yang membara untuk mewujudkan semua do’a dan ucapan mereka untuk kebaikanku kedepan. Harus lebih giat, lebih mantap, dan tak boleh goyah!.

Bismillah….

One thought on “Refleksi Hidup di 21 Tahun

  1. Ping-balik: Memetik Hikmah | HAGANIKU

Harap tinggalkan pesan, kesan, bahkan pertanyaan.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s