SUDAH TERLALU LAMA SENDIRI

ku nikmati, hingga detik ini.

ku nikmati, hingga detik ini.

Lantunan lagu ini menjadi pengiring aku menuliskan ini. Aku merasa lagu ini sungguh amat mewakilkan, lirik per lirik membuat aku merasa tak perlu menjelaskan apa-apa kepada mereka hanya cukup bersenandung nada lagu ini.

2 November nanti aku berusia 21 tahun, dengan gelar sarjana aku masih anteng sendiri.

Tapi bukan berarti selama hampir 21 tahun ini aku tak pernah menikmati kebahagiaan bersama seseorang. Aku malah beruntung dan bersyukur bahwa ternyata do’a ku dulu ketika Madrasah dikabulkan Allah sedemikian rupa. Ketika aku mulai berani untuk fokus pada pencapaian hidup untuk menjadi manusia yang dikenang banyak orang, aku berjanji pada diriku sendiri, dihadapan sahabat-sahabatku dan disaksikan Allah tentunya. Bahwa aku akan menuruti perintah ibu, tak ada yang namanya pacaran sebelum bekerja (alias memang waktunya mencari teman hidup). No doubt.

Perjanjian untuk “Lama Sendiri” itu mungkin sudah hampir 7 tahun lamanya. Aku masih mengenakan seragam abu-abu saat itu. Menyenangkan loh sendiri itu hahahaha….

Aku bisa berteman dengan banyak orang.

Aku bisa melakukan apapun tanpa memikirkan ada seseorang yang hatinya harus aku jaga (which my own heart saja belum bisa aku jaga).

Aku bisa fokus tanpa diganggu celotehan atau kemarahan aneh seseorang setiap hari.

Dan masih banyak lagi kekerenan menjadi seorang Single.

Pertanyaannya adalah: “Jadi dari lahir mona belum pernah pacaran?”. Well, aku rasa aku tak perlu menjawabnya😀 .

Tentu aku pernah merasakan fitrah jatuh cinta, patah hati, mengagumi, dikecewakan, bahkan menjatuhkan hatiku untuk seseorang. But, i keep it to myself.

Pertanyaan berikutnya: “Sendiri terus mungkin karna kamu ga laku kan?”. Yang satu ini aku berani jawab haha, weiiiittsss aku pernah dibilang jutek karna tak balas pesan, aku pun pernah bermalam-malam berbalas pesan, sampai makan bareng berdua. (Ya Rabb, ampuni hamba)

Tapi setiap aku mau melangkah lebih jauh (yang artinya berbuat dosa) somehow, Allah membawa aku kembali pada track dimana aku seharusnya berada. Ibaratnya, dosa dan keputusanku pernah berada dalam satu jarak membran tipis. Akhirnya, aku sendiri lagi.

Sampai akhirnya ku sadari, aku tak bisa terus begini…

Yap. Momentum itu aku dapati ketika singgah ke Madrasah Aliyah ku tercinta. Awalnya kebanggaan tersendiri ketika banyak guru yang ingat nama lengkapku meski sudah 4 tahun lulus, meski beberapa dari mereka aku lupa namanya. Mereka bertanya kabarku, karirku, kuliahku dulu, dan masih banyak lagi di kesempatan untuk merumuskan Ikatan Alumni pada waktu itu. Seorang wakil kepala sekolah menghampiriku lagi “Kamu kapan nyusul nikah?” Aku tertegun lalu menjawab “Aku masih mau bangun Indonesia dulu bu, mau S2, kan masih muda”. Jawaban yang spontan tapi jujur.

Seorang wali kelas favoritku juga mendatangiku bertanya hal serupa. Sahabatku yang datang bersamaku malah menjawab “kalau mona bentar lagi bu”, Ibu itu pun percaya. Padahal boro-boro nikah coy, cari kerja aja aku belum ada niat. Aku belum bisa masak (yang aneh-aneh itu), aku belum bisa atur uang sedemian rupa, aku belum bisa atur emosi, apalagi ngobrol sama orang tua – tua itu hal paling aku hindari hingga hari ini gimana mau ketemu calon mertua coba? Masih belum tahun ini atau tahun depan sepertinya.

Sudah terlalu asik sendiri, Sudah terlalu asik dengan duniaku sendiri

Mungkin lirik ini tepat sekali, aku terlalu asik sendiri. Menikmati list chat handphone yang beberapa bulan terakhir clean dari bibit dosa. Menikmati mencari sumber kekaguman untuk dijadikan motivasi. Menikmati dunia lah pada intinya sembari mencicil bekal akhirat.

Teman-temanku berkata yang kau cari seperti apa

ku hanya bisa tertawa ‘nanti juga pasti ada waktunya’

walau jauh dilubuk hati aku tak ingin terus begini.

Nanti ada waktunya, ketika aku sudah merasa mantap – pantas – dan siap.

Aku atau dia yang akan menemui lebih dulu, atau menemukan satu sama lain berbarengan. Nanti pasti ada waktunya.

Manatau, esok lusa aku mendadak mengubah haluan hidup, dari yang dulunya mempersiapkan diri untuk melanjutkan studi dan memulai berkarir malah belajar memasak dan beradaptasi dengan ibu-ibu seumuran ibu kamu? *eh

Aku sih yakin, masa aku sendiri ini jauh lebih singkat dibanding waktu yang akan kita lalui bersama nantinya. *tsaaah

Aku ngga bisa janjiin diri aku akan jadi ibu peradaban, atau apalah. Aku Cuma bisa mencoba jadi yang terbaik dari diri aku saat ini untuk seterusnya. Aku ngga bisa janjiin akan membangun negara ini sampai kapanpun itu, toh aku nanti dibilang membual lagi. Aku Cuma bisa janji bakal jaga diri dan jaga hati sampai kamu datang mengungkapkan niat baik untuk keluargaku setujui.

Harap tinggalkan pesan, kesan, bahkan pertanyaan.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s