I said to myself: “Let it flow! Let them go.”

61335-6835368-_MG_8586

Terbanglah. Dan bawa semua kepahitan ini.

Membiarkan semuanya berlalu.

Ya, saya sedang mencoba pulih dari semua ini, mencoba menerima, mencoba memaafkan, mencoba melangkah lagi. Setelah 64 hari pemulihan dari sakit yang begitu menyiksa saya. Sakit yang berawal dari perasaan hingga mempengaruhi kondisi fisik saya.

Saya belajar banyak dari peristiwa 64 hari lalu, peristiwa yang bagi saya ialah Peristiwa Paling Menyakitkan yang merubah segalanya hingga detik ini. Dunia saya hancur saat itu, semua yang saya rintis lenyap seketika.

Siapa yang membuat saya tersakiti sebegitu dalam?

Jawabnya tentu diri saya sendiri yang membiarkan kepercayaan pada orang sebegitu percaya, membiarkan mereka begitu dekat hingga pisau yang menancap lebih dalam.

Jujur saja, bagi saya ini adalah momentum yang paling memberatkan saya dalam melanjutkan langkah saya. Sampai-sampai saya sulit menuliskan detail dari kejadian itu. Tapi saya akan mencoba, karna menulis adalah proses menjabarkan perasaan.

Jadi begini.

Saya adalah pribadi yang sulit membaur dengan sebuah lingkungan, pribadi yang begitu asyik dengan dunia nya sendiri hingga saya mampu menemukan yang tepat maka saya tak akan bisa jauh. Saya menemukan Organisasi, sebagai solusi dari permasalahan sosialisasi saya di awal kuliah. Saya bertemu dengan beberapa orang yang sangat saya harapkan akan menjadi bagian dari masa depan saya. Hingga tak terasa kami berkumpul dan menamai diri. Singkat cerita, satu per satu keluar (mostly karna kesalahpahaman, dan saya merasa punya andil besar). Saya sudah mencoba menjalinnya lagi, namun sulit.

Hingga di masa dimana keluarga saya diguncang hebat, ditambah beban Tugas Akhir, ditambah lagi dengan Ketidakpastian Karir dan Studi saya, sebuah masalah hebat datang.

Orang-orang yang dulunya sering mengatakan kalimat penyejuk hati kepada saya, balik mencaci saya. Lucu sekali bila diingat kalimat salah satu dari mereka “karna kamu asik, dan mereka asik padahal baru kenal” lalu ada lagi “aku pingin jadi kayak kamu mon”. Saya akhir-akhir ini sebenarnya sadar bahwa obsesi seseorang lah yang mengacaukan ini semua. Saya dipersalahkan dan dicap paling berdosa. 64 hari yang lalu, saya nangis begitu menderu disebuah tempat makan nirlaba tempat biasa kami semua berkumpul 4 jam lamanya. Dihina, tak diperdulikan penjelasan, bahkan oleh seorang adik tingkat yang saya anggap adik saya sendiri.

Di moment itulah saya menyadari betapa sulitnya membedakan mana Sahabat mana Pengkhianat.

Beberapa kalimat saya dipersalahkan, saya mendadak jadi makhluk paling merusak mood, saya jadi satu-satunya pribadi yang harus instrokpeksi diri. Saya pulang dengan airmata dan tak berhenti hingga tengah malam. Saya pasrah malam itu, sahabat yang selama ini saya banggakan, mereka berbahagia diatas kalimat “mona itu bla bla bla”.

Apakah mereka tidak tau betapa saya mencintai mereka?. Betapa panik saya saat ada yang melabelkan kata jelek pada salah satu, Betapa sedihnya saya saat ada yang kesepian, dll. Mereka tidak akan pernah saya beritahu, tidak akan pernah sejak saat itu. Biar saya pendam saja. Biar.

Bahkan salah satu diantara mereka unfollow sosial media saya.

Padahal saya berharap semua yang saya ceritakan kepada mereka, kisah-kisah kami, adalah bahan untuk mereka support saya. Tapi ternyata tidak sama sekali. Bahkan semua kekurangan saya, kisah pahit saya, kesalahan saya diungkap disaat itu sebagai bumerang. Tega sekali.

Saya tidak marah, Saya hanya kecewa teramat dalam. Sakit teramat dalam.

Namun, saya perlahan mencoba bangkit dan berhenti menangis. Hingga momentum saya wisuda datang, Allah menunjukan saya bahwa ternyata saya dicintai banyak orang. Bunga, Kado, Boneka banyak sekali hingga saya tak bisa membawanya sendirian. Yang memberi itu semua kebanyakan adalah orang-orang yang tidak saya sangka begitu mencintai saya. Ah, air mata saya mulai saat itu jatuh sebagai air mata bahagia.

Saya berterima kasih pada Allah, ketika fase baru hidup saya dibiarkan seolah sendirian lepas dari tempat saya bergantung. Allah menyiapkan hal-hal dan orang-orang yang pasti jauh lebih indah.

Saya mencoba Memaafkan, Membiarkan semua berlalu, Membuka Hati, Memberi Kepercayaan dengan Hati-hati.

Terima kasih atas kekecewaan ini, saya belajar banyak. Setidaknya, saya bisa menuliskannya untuk beberapa tulisan yang akan datang. Berangkat dari ini semua. Saya jadi bisa nulis blog saya lagi, hehhee.

I still love you guys, with all of my heart.

Mungkin, perjalanan kebersamaan kita yang menyenangkan berakhir 64 hari yang lalu dan kalian aku biarkan melanjutkannya tanpa aku. Tapi kalian harus tau, bahwa tak ada yang mutlak salah, dan tak ada yang mutlak benar. Saya belajar bahwa saya ternyata kuat, saya berhasil mengingat kebaikan kalian kepada saya dibanding keburukan yang terjadi. Meski mungkin kalian tidak begitu.

Fase Baru, Saya Siap !

One thought on “I said to myself: “Let it flow! Let them go.”

  1. Ping-balik: Memetik Hikmah | HAGANIKU

Harap tinggalkan pesan, kesan, bahkan pertanyaan.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s