SUDAH TERLALU LAMA SENDIRI

ku nikmati, hingga detik ini.

ku nikmati, hingga detik ini.

Lantunan lagu ini menjadi pengiring aku menuliskan ini. Aku merasa lagu ini sungguh amat mewakilkan, lirik per lirik membuat aku merasa tak perlu menjelaskan apa-apa kepada mereka hanya cukup bersenandung nada lagu ini.

2 November nanti aku berusia 21 tahun, dengan gelar sarjana aku masih anteng sendiri.

Tapi bukan berarti selama hampir 21 tahun ini aku tak pernah menikmati kebahagiaan bersama seseorang. Aku malah beruntung dan bersyukur bahwa ternyata do’a ku dulu ketika Madrasah dikabulkan Allah sedemikian rupa. Ketika aku mulai berani untuk fokus pada pencapaian hidup untuk menjadi manusia yang dikenang banyak orang, aku berjanji pada diriku sendiri, dihadapan sahabat-sahabatku dan disaksikan Allah tentunya. Bahwa aku akan menuruti perintah ibu, tak ada yang namanya pacaran sebelum bekerja (alias memang waktunya mencari teman hidup). No doubt.

Perjanjian untuk “Lama Sendiri” itu mungkin sudah hampir 7 tahun lamanya. Aku masih mengenakan seragam abu-abu saat itu. Menyenangkan loh sendiri itu hahahaha….

Aku bisa berteman dengan banyak orang.

Aku bisa melakukan apapun tanpa memikirkan ada seseorang yang hatinya harus aku jaga (which my own heart saja belum bisa aku jaga).

Aku bisa fokus tanpa diganggu celotehan atau kemarahan aneh seseorang setiap hari.

Dan masih banyak lagi kekerenan menjadi seorang Single.

Baca lebih lanjut

Iklan

I said to myself: “Let it flow! Let them go.”

61335-6835368-_MG_8586

Terbanglah. Dan bawa semua kepahitan ini.

Membiarkan semuanya berlalu.

Ya, saya sedang mencoba pulih dari semua ini, mencoba menerima, mencoba memaafkan, mencoba melangkah lagi. Setelah 64 hari pemulihan dari sakit yang begitu menyiksa saya. Sakit yang berawal dari perasaan hingga mempengaruhi kondisi fisik saya.

Saya belajar banyak dari peristiwa 64 hari lalu, peristiwa yang bagi saya ialah Peristiwa Paling Menyakitkan yang merubah segalanya hingga detik ini. Dunia saya hancur saat itu, semua yang saya rintis lenyap seketika.

Siapa yang membuat saya tersakiti sebegitu dalam?

Jawabnya tentu diri saya sendiri yang membiarkan kepercayaan pada orang sebegitu percaya, membiarkan mereka begitu dekat hingga pisau yang menancap lebih dalam.

Jujur saja, bagi saya ini adalah momentum yang paling memberatkan saya dalam melanjutkan langkah saya. Sampai-sampai saya sulit menuliskan detail dari kejadian itu. Tapi saya akan mencoba, karna menulis adalah proses menjabarkan perasaan.

Baca lebih lanjut

Logika dan Hati [The Proposal]

Sepasang Perasaan

Sepasang Perasaan

“Kamu lagi cari apa? Cari aku?” Dia bertanya.

Aku tersenyum geli, lalu memandangi lamat-lamat. Namun aku tak bisa mendekat. Dia kembali meneruskan.

“Kalau kamu cari aku, nanti kamu kehabisan tenagamu sebelum akhirnya bisa menyentuhku.”

Aku picingkan mata mendengar itu.

“Tenagamu tak akan cukup untuk mencari lalu menangkapku. Karna sebelum aku menyerah akan pesonamu, aku akan terus menerus berputar memandangi keindahan yang ada pada dirimu. Memahami pemikiranmu saja aku belum bisa paham, apalagi mendekati fisikmu agar ku pandangi. Makanya aku belum bisa menetap. Hehe”

Baca lebih lanjut