MEMUTUSKAN MEMIMPIN

YOSH!

YOSH!

Wanita dan kepimpinan, adalah topic hangat dalam hidup seorang Mona Khoirunnisah satu minggu terakhir ini. Bukan hal konyol saya mengesampingkan skripsi saya demi topic ini. Saya dicalonkan bersama dua lelaki lain menjadi pemimpin sebuah organisasi eksternal yang ada di kota saya. Butuh waktu dan perhitungan matang untuk maju. Saya memang menyatakan kesanggupan saya, namun dengan banyak pertimbangan. Dan ketika mengetahui siapa saja kandidat lain, lalu melihat situasi forum, saya tidak bisa serta merta menyanggupi lalu bertarung.

Alasan utama saya ialah Agama. Karna, beberapa kali dulu saya dicalonkan ketua di organisasi lain saya mengatasnamakan Agama untuk ini dan alas an itu diterima. Namun, kali ini tidak sesederhana itu. Jika saya menyanggupi, memang belum tentu saya memenangkan pertarungan, namun kemungkinan itu ada. Jika saya mengundurkan diri, belum tentu saya dapat kesempatan menyelamatkan sesuatu itu dua kali. Dan masih banyak lagi.

Beberapa rekan memberikan semangat, beberapa lagi memberikan pandangan, beberapa mendukung penuh saya, beberapa lagi menganjurkan saya untuk tidak melanjutkan, ada banyak sekali masukan pertimbangan di benak saya tentang ini.

Lalu, saya mencoba membaca lagi sejarah. Dimana yang paling fenomenal dalam Islam ialah Siti Aisyah r.a. yang memimpin sebuah perang. Selain itu, ada pula hadist Rasul mengenai pemimpin perempuan.

Kurang lebih: “Saat Nabi Muhammad SAW mendengar kabar suksesi kekaisaran Persia kepada putri Kaisar, beliau bersabda: Lan Yufliha Qawmun Wallaw Amrahumu Mraatan [H.R. Bukhariy], artinya: Sekali-kali tidak beruntung suatu kaum yang menyerahkan urusan mereka kepada perempuan. Hadits ini, seperti dinyatakan oleh Imam Ibn Hajar, diungkapkan berkaitan dengan hadits-hadits lain tentang kisah kesewenang-wenangan Kaisar Persia. Ia kemudian di kudeta dan dibunuh, dan kemudian terjadi pelimpahan kekuasaan ketangan puteri Kaisar. Dalam pandangan Muhammad al-Syawaribi, hadits tersebut tidak bisa dijadikan rujukan untuk hal yang ilzamiyah (normatif), karena diriwayatkan secara ahad (individual). Hadits ahad hanya bersifat ikhbariyah (informatif), sehingga tidak memiliki konsekwensi hukum apapun. Dalam kaidah Ushul Fiqh untuk hal-hal yang sangat prinsip yaitu ilzamiyah, haruslah berlandaskan kepada teks yang diriwayatkan secara mutawatir (kolektif).” [bisa dibaca lanjutannya di https://dickyklowor.wordpress.com/2008/11/09/perang-jamal-dan-kepemimpinan-perempuan/ ]

Saya mencoba mencari referensi dunia modern, karna saya pikir ‘siapa tau konsep itu sudah tidak relevan?’. Namun tidak bisa sebegitu menggugah lontaran dalil agama bagi saya. Akhirnya saya mencoba melupakan permasalahan ini, saya coba fokus pada skripsi, dan memutuskan meet up dengan seorang senior perihal ini. Namun semalam, saya menemukan update dari seorang teman karib saya yang sudah lama tidak bersua. Berhubung dia ini lelaki, saya bertanya:

“menurut lo, cowo macam apa yang bisa bikin gue takhluk?”

Awalnya dia balas pesan saya dengan menyebutkan cirri-ciri fisik seorang teman kami. Aelah ngga tepat banget waktunya coy, gue lagi bingung!

Akhirnya saya desak lagi… dan dia pun mengeluarkan kalimat yang ngga tau dia dapat darimana, tapi quite awesome!

“Yang pasti cowok yang bisa buat lo puas atas keputusannya, cowo yang ikut puas dengan setiap keputusan lo. Soalnya, lo itu tuh keras kepala.

Cowok yang bisa kondisiin waktu yang lebih baik, soalnya lo ngga suka dengan istilah wasting time.

Cowok yang pinter jadi pemimpin, soalnya lo benci dengan cowok yang klemar-klemer kayak hadi (salah satu temen kami, hehe sorry di gue cuma tulis ulang😀 ).

Cowok yang paling pinter baca kondisi, karena emosi lo sering labil, terutama masa PMS.

Cowok yang jelas lebih dewasa, soalnya sifat lo masih childish.

Cowok yang 24 jam siap nolongin lo, soalnya jam terbang lo nih banyak.

Cowok yang bisa buat lo tenang, soalnya emosi lo sering meluap-luap.

Cowok yang ngga bisa bikin lo nangis, soalnya lo tuh hobi banget nangis”

Gue yang baca ini pun terdiam sesaat, dia ada benernya. Bukan ada sih, bener banget malah. Dengan semua yang dia bilang, gue sadar kalo sebenernya gue “cewe 20 tahun banget” . Apakah gue bisa memimpin dengan semua kapabilitas yang gue punya?

—–Kembali lagi menggunakan bahasa baku —–

Karna menurut saya, memimpin itu adalah amanah, dan dipimpin pun ialah amanah.

Percuma pemimpinnya saja yang dinilai, padahal urat nadi dari keberlangsungan organisasi ialah integrasi bersama semua anggota. Ketua dan Anggota itu hanya beda pada structural, selebihnya sama saja, sama-sama manusia.

Saya takut jika hanya anggota saya saja yang mencoba menjadi anggota yang baik, sedangkan saya sendiri tidak mencoba menjadi pemimpin yang baik. Dan sebaliknya.

Entahlah apa keputusan yang akan saya ambil. Sore ini saya akan mencoba konsultasi lagi, dan semoga setiap keputusan saya ini selalu melibatkan Allah. Aamiin

Harap tinggalkan pesan, kesan, bahkan pertanyaan.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s