PILIHAN AYAH

dituntun ayah.

dituntun ayah.

Di tulisan ini, jika ada yang membacanya dan sedang mengalami keresahan jiwa tentang kuliah dan ragu untuk meneruskan perjuangan hingga tuntas. Saya hanya ingin sedikit berbagi kisah saya. Percaya lah, bahwa Allah menempatkanmu pada suatu tempat pasti dengan perhitungan akurat. Berikan saja yang terbaik di setiap langkah perjuangan. Kalau kita berhenti dengan mengejar sesuatu yang belum tentu terbaik apakah tidak sama saja dengan kufur nikmat?. Memang, ragu dan cemas akan menghampiri diri setiap manusia apalagi diusia mahasiswa. Saya pun begitu, kita hanya perlu sering-sering berfikir jernih dan tidak gegabah saja tentang hidup.

Dulu, ketika mau lulus dari Madrasah Aliyah, saya pribadi tidak tau dan memang tidak punya keinginan untuk kuliah di jurusan tertentu atau Perguruan Tinggi tertentu. Mungkin, karena saat itu saya bersekolah di sebuah sekolah yang memang jauh dari kata canggih (maaf, jujur). Dimana saya yakin 95% siswa angkatan saya tidak ada niatan untuk masuk PTN terkenal sekelas UI atau ITB. Saya sendiri, adalah orang yang berfikir dan bertindak berdasarkan lingkungan (bukan berarti ‘terpengaruh’, harap bedakan). Misalnya, lingkungan saya melakukan sebuah kegiatan yang merugikan, maka saya tidak akan serta merta ikut kegiatan tersebut. Saya ada scanning, lalu berfikir dengan melihat kegiatan dan benefitnya. Seperti itulah saya. Kembali ke pokok bahasan awal, ketika menjelang lulus tersebut, yang ada dipikiran saya ialah mendapatkan nilai tertinggi seangkatan, itu saja.

Untuk kuliah pun saya tidak terlalu memikirkannya, tapi tidak pula berniat untuk tidak kuliah. Saya hanya, ‘ya gue bakal kuliah dan sukses’ just it. Pernah datang undangan dari Politeknik Negeri Sriwijaya (kampus saya sekarang), reaksi saya pertama kali dapat berita itu jujur saja saya sinis, karena di otak saya cuma tau kalau Polsri itu D3. Saya ditawari, karena undangan untuk ke Unsri tidak ada dikarenakan akreditasi sekolah kami hilang dan guru di MAN 1 Palembang (kala itu) sangat tidak mau repot ke Dinas untuk meminta salinan (padahal nasib dan masa depan siswa loh, maaf frontal sedikit karena membekas sakitnya, hehe). Singkat cerita, formulir itu saya bawa pulang, dan langsung saya serahkan kepada ayah saya. Tak lama, setelah membaca brosur, ayah sudah menentukan pilihan jurusan dan program studi. 2 Prodi D4 yang ada diurutan teratas (karena susunan tulisan brosur pada saat itu D4 hanya ada 2) ayah memilih itu.

Di Teknik Sipil ayah pilih Perancangan Jalan dan Jembatan lalu di Teknik Kimia ayah pilih Teknik Energi. Tanpa pikir panjang, saya isi formulir dan mempersiapkan berkas. Saya kirim via sekolah, guru-guru yang seperti biasa tidak kooperatif dengan saya (saya tau di perpisahan siswa, seorang guru jujur kepada saya sambil bilang ‘mona, ibu minta maaf ya sering gosip tentang kamu di kantor’. Idiiih si ibu guru.) malah meremehkan saya dan prodi pilihan saya itu. Bla, Bla, Bla ocehan mereka, saya mah ora urus, saya jawab saja “saya yakin bu, in sya Allah”. Beberapa bulan setelah dikirim belum ada kabar, berkali saya ke Polsri untuk melihat pengumuman namun nihil, ke receptionis selalu ditolak dengan kalimat serupa “tunggu saja, mungkin pengumumannya belum sampai ke sekolah adek.” Bahkan pernah “sekolah adek itu di daerah Palembang kan?” (saya berkata dalam hati, jelas-jelas MAN 1 Palembang, titik 0 kilometer palembang saja paling cuma 2 kilometer bu, judes amat).

Somehow, seminggu sebelum daftar ulang PMDK, saya beranikan diri datang lagi. Kali ini menembus Kantor Pusat Akademik dan langsung ke bagian akademik. Beruntung, bapak disana baik dan malah terkesan sangat kaget mendengar sekolah kami belum dapat pengumuman PMDK. Meski ada bapak yang sampai bilang kalimat yang pernah saya dapatkan dari satpam “mungkin, sekolahnya ngga ada yang lulus dek”. Astagfirullah, kejamnya mereka sama anak kampung seperti kami. But anyway, kepala bagian memeriksa bukti penerimaan dari kantor pos, dan ternyata alamat MAN 1 yang dikirim adalah alamat MAN 3, karena 3 tahun lalu memang masih di daerah Pakjo tapi sudah pindah ke Jakabaring. Teringatlah saya akan desas-desus sinis MAN 3 dan MAN 1 kurang baik hubungannya, saya pribadi saja pernah dihina salah seorang pengajar MAN 3 ketika ada ujian disana, dihina karena siwswa MAN 1 tidak ada yang lolos program Santri jadi Dokter (program dari Departemen Agama Sumsel), bagaimana mau lolos memang infonya baru sampai di tahun ketika saya ikut tes tersebut. Dan, info kalau pengumuman PMDK Polsri sudah ada pun saya dapat dari pengajar itu yang sombong kalau siswa MAN 3 diterima banyak sekali. Kenapa jadi curhat? (maaf saja, saya terlampau menyimpan kesan itu didalam lubuk hati sih. hohoho).

Dari 10 pendaftar, 5 dari kami diterima. Alhamdulillahnya saya termasuk yang lolos, padahal sudah hopeless, sampai di lembar terakhir baru ada nama saya karena urutan jurusan, andai saya berhenti membaca itu mungkin saya tidak menulis tulisan ini sekarang. Saya diterima di prodi pilihan pertama, PJJ melalui jalur tanpa tes. (huahaha, tapi saya tidak senang sebegitunya, hanya lega karena setidaknya saya sudah ada kepastian diterima PTN nih, saya diterima di PTN.) Saya setelah itu, menelfon ayah dan ibu yang sedang di Jakarta, mereka seperti biasa, tidak terlalu menunjukan kebanggannya. Mereka menganjurkan bahwa saya harus segera daftar ulang.

You know what? Ketika ujian SNMPTN saya hanya mengerjakan dengan serius 40% soal selebihnya tidak saya terlalu pikirkan (hehe, entah kenapa). Setelah daftar ulang saya baru tau kalau yang diterima di PJJ melalui PMDK itu hanya 5 orang, saya satu-satunya perempuan yang daftar ulang. Takut? Pasti, ketakutan jikalau saya salah jurusan sangat terasa.

Tapi lagi-lagi saya terfikir, kenapa saya tidak secemas sahabat dan teman-teman saya perihal kuliah. 5 sahabat saya begitu terobsesi masuk PTN, selevel UNSRI atau IAIN, tapi saya selow sekali. Tidak ada terfikir untuk mengambil formulir Universitas Swasta jaga-jaga kalau tidak diterima di negeri. Semacam, yakin saja bahwa saya akan kuliah (meski tidak ada obsesi jurusan dan universitas), yakin saja bahwa saya akan masuk negeri (meski tidak tau universitas yang sesuai dengan skill saya).

Pertama masuk kelas PJJ, perkenalan, semua mahasiswa itu dari sekolah negeri dan sekolah unggulan. Nah, saya? Madrasah. Tapi justru semangat yang timbul, harus jadi yang terbaik, harus bisa buktikan kalau saya bisa unggul. Dengan badai besar dikelas, dibentak, dibully dan sebagainya tapi perlahan badai itu mereda. IPK saya peringkat kedua. Saya bahkan pernah dapat IP tertinggi disemester ke 4. (tidak bermaksud sombong, hanya berbagi) Sampai pada titik saya Kerja Praktek beberapa bulan lalu. Saya lagi-lagi terfikir, kenapa saya belum bisa mencintai Teknik Sipil. Saya paham beberapa materi yang tidak teman sekelas saya pahami. Saya dapat nilai A di mata kuliah yang banyak teman sekelas tidak paham karena dosen-dosennya menurut mereka aneh, tapi saya fine bahkan outstanding dengan itu. Saya ini anomali, atau apa ?

Apa semua yang saya rasakan ini, karena jalan hidup saya Ayah yang pilih?. Sempat saya berfikir seperti itu. Jurusan kuliah itu tidak main-main, inilah yang akan saya bawa ke dunia luar, ke lingkungan, ke tempat kerja, bahkan ke dunia percintaan, background pendidikan itu penting untuk aspek hidup selanjutnya. Teknik Sipil ini pilihan saya karena patuh atas Pilihan Ayah, atau Jalan Tuhan melalui ayah, karena saya pribadi tidak mengetahui jurusan apa yang saya inginkan. Lalu saya perlahan mengingat, dulu sewaktu saya SMP dan ayah ibu masih merantau ke Jakarta. Saya sering dimarahi tante saya karena dari pagi bukannya beres-beres rumah tapi menggambar Denah Rumah di buku gambar. Aneh ya? Hm, tapi itu sekarang menyadarkan saya. Dulu, guru fisika MAN 1, bu Amel pernah bilang kurang lebih begini: “kalau kita mau lihat akan jadi apa kita kedepan, maka lihatlah ketertarikan kita semasa kecil”.

Dan ketika mata kuliah gambar teknik, 2 semester, saya selalu dapat A, padahal sedikit yang bisa dapat A, bahkan teman sekelas saya yang alumni STM gambar teknik pernah memuji gambar manual saya. Semester berikutnya Gambar Teknik AutoCAD saya pun bisa handle (meski ada yang bilang saya curang ketika ujian praktik, padahal kan bapak dosen mengawasi ketat sekali, dasar orang iri!). Masa kecil itu gambaran Masa Depan sepertinya benar, dibidang ketertarikan. Sewaktu TO di bimbel, saya memilih Teknik Sipil dan FKIP Kimia, lagi-lagi Teknik Sipil… Kenapa saya memilih itu, setelah saya ingat-ingat kembali, itu karena Teknik Sipil ada diurutan paling atas fakultas teknik. Kebetulan kah? No, ini Takdir. Sekarang, masihkah ini hanya sebatas ‘Pilihan Ayah’? Perasaan ketertarikan yang biasa saja pada Teknik Sipil tidak menyeluruh, saya tertarik dibeberapa mata kuliah. Semisal, Manajemen Konstruksi, PTM, Estimasi Biaya, Struktur, Rekayasa Gempa, dll.

Saya bahkan selalu menyelesaikan ujian semester Estimasi Biaya dan Manajemen Proyek yang teman-teman lain tidak sampai selesai mengerjakan. Karena saya suka mata kuliah itu. Saya anomali sepertinya. Saya perlahan sadar, saya ini terjebak di lingkungan kelas yang 90% lelaki. Mereka bisa dengan bangga bercerita tentang pengetahuan Lapangan mereka. Gaya mereka hidup di Teknik Sipil, link yang mereka punya untuk bekerja. Memang, kuliah di Politeknik dituntut untuk siap kerja. Itu saya akui, nah saya ini orangnya lebih tertarik di analisis. Impian saya setelah menjalani hidup sebagai mahasiswi teknik ialah menjadi Researcher. Kalau begitu apakah saya salah kuliah di Politeknik yang kebanyakan lebih acuh perihal menyambung master, karena fokus sekali perihal siap kerja? Tidak, ini lagi-lagi Takdir. Mau bagaimana pun, kuliah di Teknik Sipil ini sudah membawa banyak hal di hidup saya. Saya berjuang begadang terus menerus, panas-panasan, dilatih mental.

Dan yang pasti, lebih menemukan apa yang saya mau, yang dulu belum saya temukan. Saya bertemu impian untuk kuliah lagi, saya sadar bahwa saya tidak bisa jauh dari pulpen dan kertas, saya bisa ikut beberapa organisasi, saya jadi tau bahwa saya kurang cocok di lapangan, dll. Mungkin saya hanya bertanya-tanya, kenapa lingkungan sekitar saya begitu ‘siap’ untuk bekerja, sedangkan saya masih sibuk mencari ketertarikan ‘bekerja’ seperti yang mereka punya. “Kamu tidak salah, mereka tidak salah. Persepsi kamu saja yang berbeda dari persepsi mereka.” Itu lah kesimpulan sementara saya.

Ini bukan karena saya salah jurusan, kalau memang saya salah jurusan, kenapa IPK saya masih Alhamdulillah sekali.

Ini bukan karena saya lebih passionate dibidang ilmu pemerintahan, toh saya masih bisa berorasi melalui organisasi.

Ini bukan karena saya berbeda dengan yang lain, karena sebenarnya hidup memang mewajibkan adanya perbedaan.

Ini bukan karena saya di Politeknik, Allah sedang merencanakan hal yang indah setelah ini saya yakin itu.

Sekarang ketika saya dihadapkan pada situasi apply beasiswa untuk Master, saya terkendala sebagai lulusan Politeknik, di Palembang pula, tidak ada professor di Polsri apalagi di jurusan saya yang bisa memberi saya recommendation letter. Tidak ada beasiswa antar institusi seperti kebanyakan universitas di jawa. Saya teramat geram pada awalnya. (bukan berarti kualitas pendidik rendah, bukan!. Nanti saya di DO karena salah pengertian haha).

Tidak semua ketertarikan harus dikejar saat itu juga, ada Allah yang akan mengatur kapan waktu yang tepat. Kadang Allah menunda, untuk menuntun kita pada hal lain yang terbaik untuk kita. Selagi kita jalani karuniaNya. Saya juga sering stuck in the moment, where my brain can’t think logically. Sering sekali, saya ini manusia yang banyak khilafnya. Meski, manusia memang tempatnya khilaf bukan berarti Allah maklum kalau kita khilaf terus-terusan. Pilihan ada ditangan kita, hidup memang kita yang menjalani. Tapi kita hidup tidak sendirian, untuk egois memilih itu mudah, semudah menyesal dikemudian hari. Maka dari itu, apapun yang kita kerjakan libatkan Allah. Pilihan Ayah saat itu mungkin ialah cara dari Allah untuk menuntun saya menjajaki step baru dalam hidup ini. Entah Nasib, Entah Takdir. Tapi yang pasti itu Jalan Allah, yang pasti terbaik untuk umatNya. Saya tetap diberi kesempatan untuk memilih, diawal ataupun di tengah perjalanan, saya berhak untuk memilih.

Tapi toh saya memilih bertahan, menunggu janji Allah bahwa Allah tidak akan menyamakan orang yang berbuat kebaikan dengan orang yang berbuat keburukan, itu saja. Saya sadar betul, bahwa pilihan Ayah ini hal baik, saya turuti. Mungkin nanti, ketika saya lulus dan menyambung fase lain dalam hidup saya lebih bisa bercerita tentang hikmah dari Pilihan Ayah ini. Sekarang saya ingin menyatakan bahwa, sebenarnya saya yang memilih untuk terus disini, bukan lagi perihal pilihan Ayah mengenai program studi, toh saya bertahan, saya bertahan!. Ini tanggung jawab hidup, pemenang tidak pernah menyalahkan orang lain atas apa yang terjadi dalam hidupnya. Ya, saya mencoba untuk menang !

– Palembang, 09/02/2015-

5 thoughts on “PILIHAN AYAH

  1. Assalamualaikum kak..
    Kak.. setelah membaca tulisan kakak,saya rasa ada kemripan antara saya dengan kakak,alhamdulillah saya juga lulus d4 pjj,politeknik padang.. dan ini mungkin pilihan dari Allah melalui ayah saya. Sebelumnya saya juga lulus di farmasi tapi entah mengapa saya lebih memilih untuk kuliah di politeknik. Dan mengenai tulisan kakak,saya merasa ada tambahan semangat dalam diri saya. Dan inshaallah pilihan hidup saya yang terbaik. makasih kak,udah berbagi pengalaman.

    • Waalaikumusalam.

      mungkin beberapa hal kita ada kesamaan ya hihi. saya baru tau kalau di padang sudah ada PJJ juga, selamat berjuang ya…

      kamu harus sering-sering menuliskan pengalamanmu juga ya🙂

  2. Hehe.. iya kak inshaallah
    Oiya kak.. saya mo nanya,cewe kan jadi minoritas di PJJ kak,sebagai kaum minoritas😀,tips2 nya apa si kak.. buat bisa berbaur dengan kaum mayoritasnya.. hehe..

    • aku pun bukan tipe yang disukai semua orang sih dek. kampus itu keras, apalagi teknik. yang perlu diperhatiin tuh Jangan kaku, fleksibel aja sama kondisi. Cowo-cowo bebas jadi dirinya, ngomongin hal2 tabu, ngelakuin hal2 aneh, kita biar memahami mereka ya Jangan kaku.

      Trus, harus tahan banting. Meski ngga bisa dipungkiri bahwa lelaki dan perempuan pasti berbeda dalam berbagai hal dan ngga bisa sama. Kita sebagai cewe juga harus tahan banting, begadang, praktek dilapangan, dll.

      Selebihnya, Belajar yang rajin. itu doang.

Harap tinggalkan pesan, kesan, bahkan pertanyaan.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s