MENCOBA BERDAMAI DENGAN DIRI SENDIRI

Allah, Pendamai Hati.

Allah, Pendamai Hati.

Allah Maha Mengetahui apa yang tidak saya ketahui. Konsep yang membuat saya tidak berani pesimis terhadap permasalahan yang silih berganti datang dalam skala besar. Saya mencoba terus untuk tidak suuzon dengan takdir yang digariskan, karna Allah sudah menakar diri setiap hambaNya. Lalu ketika hati kecil ini sering curiga “kenapa harus saya?” jawabannya ialah “in shaa Allah, kamu yang paling mampu untuk handle masalah sebesar ini”.

Saya akan mencoba sedikit curhat dalam tulisan ini, jadi jika merasa akan buang-buang waktu membacanya silahkan beralih ketulisan yang lain. Hehehe (Penulis lagi sentimentil)

Tidak pernah terbayangkan sebelumnya di benak saya, bahwa tempat ternyaman di kampus yaitu Majelis Permusyawaratan Mahasiswa Polsri organisasi tercinta saya akan menjadi tempat yang menyeramkan bagi jiwa saya dan bahkan menjadi petaka (duile bahasanya serem, emang gitu kondisinya).

Setiap organisasi internal kampus yang maju, pastilah akan didera dengan impuls organisasi eksternal yang masuk. Kebijakan masing-masing temen mahasiswa juga bakalan beraneka ragam tentang ini, banyak kampus yang sudah melarang adanya organisasi eksternal untuk punya cabang dikampusnya dan bahkan melarang pemimpin Internal kampus berasal darisana. Namun, tidak dengan Politeknik Negeri Sriwijaya.

Awalnya, selama tiga periode sebelumnya saya tidak merasakan ada hal yang begitu mengancam. Karna bagi saya dinamika itu biasa, ada 2 golongan yang akan terus bergerak di tanah yang sama. Perlahan namun pasti, Semester yang saya jalani juga naik ke tingkat berikutnya, dan menghantarkan saya pada predikat “senior di organisasi” (4 periode cuy, 4 periode!😀 )

Pada suatu hari, seorang dari golongan A yang menjadi minoritas di Majelis, datang kepada saya menceritakan kisah pandangan golongan mereka tentang Majelis. Jujur, awalnya saya tidak berniat terlalu mendengarkan karna bagi saya mereka itu lari dari tanggung jawab, terlepas dari kekecewaan dan lain sebagainya. Namun, saya mencoba jadi pendengar yang baik itu soal jadi problem solver urusan lain lagi.

Hari berganti hari, Minggu berganti Minggu.

Pada suatu kesempatan, tanpa persiapan saya diminta untuk jadi Pemateri di sebuah Himpunan. Dengan Bismillah, saya menjadi pemateri. Ada adik-adik junior Majelis disana, kegiatan berlangsung sangat menyenangkan. Setelah acara pun adik-adik sharing dengan saya dan salah satu teman. Semuanya sungguh menimbulkan optimisme bahwa “Majelis bisa lebih baik”.

Namun, Orang Besar memang Tantangannya Besar. Datanglah anggapan dari golongan B bahwa saya dan teman-teman yang tidak ikut di eksternal ialah orang-orang yang brain wash para junior. (mungkin mereka ketar ketir takut minim regenerasi, dimaklumin)

Sejak saat itu saya jadi tau, bahwa meski saat saya terus menerus mencoba husnuzon kepada mereka, mereka malah berbalik suuzon. Saya sudah jengah, sebagai manusia saya kecewa, sebagai wanita saya tersakiti, sebagai senior saya terkhianati.

Sampai dengan sekarang, sudah terjadi 3 kali evaluasi Internal. Bukan saya sombong, bukan saya bermaksud negatif. Namun, evaluasi awal ialah inisiasi saya. Tapi apa mau dikata, dengan bergerombol mereka mendekati para junior, berbicara yang tidak-tidak. Membuat forum tentang masalah pribadi saya, Mereka bercerita tentang masalah internal organisasi ke orang-orang yang notabane nya sudah bukan mahasiswa meski alumni. Intinya, saya disalahkan. Teman-teman saya disalahkan.

Golongan B menuduh saya menjadi provokator Golongan A. Padahal, mana mungkin golongan A akan terang-terangan bilang. Sepertinya golongan A lebih paham hukum bertikai. Golongan B saja yang ‘terlalu’ paham fiqih sehingga sulit mendengarkan.

Bukan lagi sinisme junior yang saya dapatkan, namun banyak lagi.

Allah, bersama prasangka hambaNya. Saya terus menjaga hati, namun deadline Kerja Praktek dan banyak tugas lainnya membuat pikiran saya jadi bercabang. Saya pun mencoba hijrah, sekuat tenaga saya memfokuskan diri ke Laporan dan Seminar Kerja Praktek. Entah berapa kali saya menangis, berteriak, merintih karena masalah Fitnah yang berkembang, hati saya tetap saja belum damai. Ada sesak yang tertahan.

Sebelum seminar, saya tetap mencoba mencari Mediator untuk masalah ini. Karena dengan ilmu fiqih yang begini pas-pasan. Saya pernah tau, dalam Islam diajarkan tentang 2 yang lagi bertikai perlu ditengahi. Beberapa list sosok sudah tercoret, namun malah saya dapati mereka sudah terasuki dengan fitnah.  Pertolongan Allah masih ada dan nyata. Tersisa satu sosok, lalu saya ceritakan semuanya, karna ada momentum dimana beliau bisa bercerita dengan golongannya. Saya menelfon seorang kakak angkat saya yang sudah jauh merantau dan alumni kampus beliau memberi masukan tentang “Kedewasaan”.

“Mona, harus paham bahwa mereka itu sedang bersemangat memperjuangkan apa yang menurut mereka benar.” – Itu kata beliau.

Dalam waktu hijrah tersebut, saya benar-benar total menjauh. Saya tidak lari, saya tetap menitipkan surat (yang ternyata malah disudutkan di rapat), saya tetap ke himpunan untuk sidak, saya in shaa Allah tetap menjalankan amanah sesuai koridornya. Hanya tidak di sekretariat saja. Saya paham resikonya, Saya ambil itu.

Hingga detik saya menuliskan ini, saya belum merasakan damai. Ya, karena masalahnya belum kunjung selesai. Bahkan meluas. Saya harus apa? Pertanyaan yang berulang datang ke benak. Larinya ke Allah, satu-satunya Dzat Maha Pemelihara. Maka, Allah akan memelihara citra saya, Allah akan memelihara hati saya untuk tidak berhenti optimis semua akan jadi lebih baik.

Mungkin jika tanpa masalah ini. Saya tidak akan banyak beristigfar.

Untung masih bisa menulis, untuk menyalurkan perasaan. Mendistribusikan beban. Siapa tau jadi solusi. Kadang, tulisan berbicara dengan lantang, bukan?

Berdamai dengan diri sendiri sekarang adalah solusi utama bagi saya saat ini. Terkadang memang porsi usaha kita sudah habis, sisa porsi kuasa Allah yang menyelesaikan.

‘Badai pasti berlalu.’ Kan?

(aamiin)

Harap tinggalkan pesan, kesan, bahkan pertanyaan.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s