PEMUDA dan PERADABAN

artikel ini dibuat dalam rangka Sumpah Pemuda.

cayo!

cayo!

Jika kita tarik benang peradaban kembali pada sejarah perjuangan bangsa ini, kita akan mendapati berbagai torehan cemerlang dari barisan Pemuda. Sebut saja beberapa organisasi yang berhasil menjadi motor dari pergerakan melawan penjajahan. Ini bentuk dedikasi pemuda terhadap bangsanya, yang tak hanya sekedar retorika hingga mulut berbuih, namun juga memberi Aksi. Eits, Aksi tidak selalu tentang demonstrasi, itulah paradigma yang sekarang berkembang di masyarakat bahwa ketika Pemuda khususnya Mahasiswa aksi ialah berbentuk demonstrasi. Sekarang, itulah tugas warisan untuk kita, mengubah paradigma itu dengan memberi masyrakat berbagai alternatif pilihan yang lebih baik.

Kebanyakan para pemimpin negara ini adalah pemuda yang dulunya mengisi Otaknya tak hanya dengan spekulasi, namun juga dengan ilmu hingga ke negeri yang bahkan nama negeri itu jarang didengar sebelumnya, karna apa mereka begitu berjuang? Padahal belum tentu menjadi Pemimpin yang berdampak bagi negara bukan? Saya pun masih bertanya-tanya hingga detik ini, namun ada satu kesamaan dari mereka semua yaitu Semangat Perbaikan dengan Persiapan yang Teramat Matang.

Beralih ke perihal era penuh tantangan, maka tuntutan yang ada di pundak pemuda Indonesia kemudian berubah menjadi ‘Bagaimana pribadi kita mempersuasikan kompetensi diri?’ karna mau tidak mau kita pun harus bisa kompetitif bahkan dengan sahabat kita sendiri.

FASE

Untuk membangun sebuah peradaban baru, atau meneruskan sebuah kejayaan, atau bahkan mengembalikan kembali martabat sebuah Peradaban. Tiap generasi nya harus punya Sejarah yang mereka cipta. Karna dari sejarah itulah, mereka akan dikenang. Tema perkembangan yang luas seperti ini tentu memerlukan semua lapisan kehidupan bermasyarakat untuk berubah dan mencipta karya nyata. Dibalik itu, kita harus menyadari pula bahwa ada banyak hal yang tidak bisa kita paksakan untuk ikut berkontribusi, akan ada tumpang tindih dalam bergerak nantinya. Bila kita mencoba membandingkan, efek yang bisa diberikan oleh golongan Anak-Anak, Pemuda, Dewasa, dan Tetua tentu akan jauh berbeda meski berjalan di koridor masing-masing.

Point nya kemudian ialah, Ide dan Tindakan segar yang bisa mengimplus dunia kebanyakan terlahir dari Pemuda. Banyak pepatah yang mengatakan bahwa sebaiknya sebuah masa depan negara bisa dilihat dari pemuda nya hari ini. Itu benar, Karena fase memimpin dan yang biasanya terjadi ialah Fase Dewasa bahkan Tetua untuk memimpin sebuah kesatuan rakyat yang dikelilingi konstitusi kemudian disebut itu Negara.

Ada yang lebih menyenangkan dibanding terpecah belah, yaitu mencoba menjadi satu.

Nah, Pemuda sendiri memiliki jenis yang beragam dicoba diklasifikasikan pun akan sangat melelahkan. Pada intinya, keberagaman ini harus bisa diakomodasi dengan baik, agar tercipta sebuah sinergisitas untuk membuat Karya Nyata bersama-sama sebagai bentuk kontribusi pada Peradaban. Yang diharapkan tentunya ialah sebuah Kemajuan yang baik untuk Negara ini, bukan malah sebuah catatan kelam yang akan memperburuk kelangsungan peradaban ke depannya.

PENERUS?

Mencoba memasuki segala lini, kebaikanlah yang akan menjadi harapan mendasar. Tindak Tanduk Pemuda pada setiap era tentu akan menjadi bahan pembanding secara tersirat bagi pembelajar sejarah seperti saya dan yang membaca tulisan saya ini. Jika dimasa lampau, pemuda bahkan mendesak kaum tua untuk Proklamasi. Maka sekarang kita lihat, apa yang berimbas kepada kita. Tingkah serupa namun tak sama.

Kita terus mencoba mengkritisi, mengawal, mengawasi, atau apalah namanya untuk jalannya Pemerintahan, namun kebanyakan hanya berujung hingga itu. Dan kaum Dewasa dan Tetua lah yang tetap memangku tampuk kekuasaan. Memanglah, memimpin itu tidak harus jadi ketua. Persis seperti peristiwa Proklamasi yang begitu menggetarkan dan bersejarah bukan? Peran pemuda terdengar sebagai golongan yang mencoba bergerak mempelopori, meski pada akhirnya menjadi yang di belakang layar.

Bung Hatta dan Bung Karno pun memulai karir politik nya dari mulai muda, membangun konsolidasi masif dengan kompetensi yang mereka miliki. Dipertemukan dalam masa perlawanan dengan berbagai ragam kaum muda lain dari penjuru Indonesia. Kemudian, bergerak bersama, yang dipengaruhi perjuangan alot dalam masa-masa itu, membuat Usia mereka bertambah hingga beralih ke fase Dewasa. Hingga memimpin dengan predikat Tetua.

PEMBANGUNAN INDONESIA – ASEAN

ASEAN ECONOMIC COMMUNITY, ini bukan masalah, ini tantangan yang menjadi sebuah kesempatan. 10 Pimpinan Negara ASEAN sudah menandatangani kesempatan ini bersama, untuk pembangunan ASEAN. Sedangkan, Indonesia sendiri masih memiliki banyak program pembangunan dan percepatan yang harus ditanggulangi.

Master Plan yang Indonesia buat memiliki tujuan lebih banyak untuk Indonesia secara khusus, dan Persaingan Global dan Regional ASEAN menjadikan fokus sedikit kocar kacir. Kualitas SDM Indonesia akan langsung head to head dengan para tenaga bersertifikasi internasional. Tantangan ini, berdampak langsung para para pemuda yang berstatus warga negara Indonesia.

SINERGI PEMUDA

Sudah beberapa bentuk kegiatan Nasional yang mencoba menyatukan pemuda pemudi Indonesia untuk menyelesaikan permasalahan bersama, sebut saja Forum Indonesia Muda, Parlemen Muda, Indonesia Youth Conference, dsb. Tujuan nya berbeda-beda, namun dalam satu line yang sama, yaitu Kolaborasi – Sinergisasi. Pertanyaan yang muncul berikutnya ialah: “efektifkah?” . Pertanyaan ini sejatinya terletak di sudut mana kita memandang. Namun, segala sesuatu yang menyangkut khalayak ramai, akan lebih baik jika diselesaikan bersama pula. Semangat Gotong – Royong.

Ketika sebuah sinergi tercipta, Optimisme lah yang akan muncul. Dan mimpi-mimpi, akan direngkuh dengan kekuatan yang lebih besar.

SUMPAH PEMUDA SAAT INI

Berpuluh tahun silam, inisiasi para pemuda pemudi terbaik bangsa menghasilkan kolaborasi apik yang menimbulkan Optimisme Pembaharuan Peradaban yang gema nya sampai ke nadi-nadi rakyat jelata. Ini inti problem nya saat ini. Permasalahan yang terlalu banyak, Ahli yang terlalu banyak, namun tidak dicoba dikumpulkan, tidak dicoba saling menyatukan, agar lebih terlihat sederhana dan mudah diorganisir.

Berbicara Negara, Berbicara Permasalahan. Dengan kesatuaan yang mengendur, hanya akan menghasilkan teori-teori tanpa Aksi yang Nyata. Organisasi Kepemudaan yang dulu sangat menggaung di pelosok tanah air, kini meredup?. Sudah beralih kiblat ke Barat, menjadi pemicu berikutnya.

Kalimat Pertama, Rasa Persaingan antar daerah sedikit demi sedikit menggerus persatuan. Kita kadang lupa, bahwa Indonesia tidak hanya di Baratnya, namun hingga pelosok tertimur ialah Indonesia. Kesadaran akan letak geografis Pemuda lain selain kita pun perlu kita kaji lagi. Kalimat Pertama dari Sumpah Pemuda untuk Indonesia Timur.

Kalimat Kedua, Bangsa Indonesia. Bangsa dan Negara adalah hal yang mirip namun berbeda. Bangsa identik dengan ethnis, dan Indonesia dihadapkan dengan berbagai polemik Adat hingga saat ini. Ketika kita dengan mudah mendatangkan budaya dan orang asing, di bumi Indonesia yang satu Pancasila sendiri masih perang saudara. Belum ada langkah konkret atas ini. Dan solusi yang bisa kita tawarkan adalah dengan mendidik putra putri daerah tersebut untuk tidak mewarisi permasalahan semua leluhurnya. Dengan mengedukasi secara efektif.

Kalimat Ketiga, Bahasa Indonesia. Ada hal yang tidak kita sadari ketika kita sebagai negara sudah berhasil menyatukan wilayah melalui Bahasa, Bahasa Kesatuan Indonesia. Lalu, kita beranjak ke penggunaan bahasa asing, alih-alih untuk mengikuti kemajuan dunia internasional. Hal tersebut justru menjatuhkan kita, kita terlupa bahwa kita memiliki banyak sekali bahasa daerah. Sekarang, pemuda pemudi Indonesia kebanyakan sudah malu berbahasa daerah asal nya ketika bergaul di lingkungan yang lebih plural dan global. Tantangan yang sulit untuk diatasi dengan kreatifitas. Sudah ada tindakan dari beberapa daerah untuk memasukan bahasa daerah didalam kurikulum sekolah daerahnya, dan sudah bisa membuahkan hasil dan bisa ditiru daerah lain pula.

KAPAN KITA?

Dengan runtut sudah dicoba diurai permasalahan untuk diselesaikan, oleh para petinggi bangsa dan para ahli. Nah, tugas kita sebagai tonggak Pelurus, ialah Bersatu. Menggaungkan lagi Persatuan Indonesia. Barulah kita bisa beranjak untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan lain. Inilah fokus kita, jangan hanya lagi mengkaji dan menjabarkan kemungkinan-kemungkinan solusi. Namun, sudah beraksi untuk itu. Youth Act More!

Dengan arus Persaingan yang tak hanya dihadapi dengan sesama anak bangsa melainkan dengan pemuda pemudi asing, lalu dengan arus penggerusan kebudayaan lokal, dengan arus penurunan kualitas mental, serta arus-arus lain yang bisa menenggelamkan pemuda, kita ditantang berhasil!

Berapa banyak waktu yang kita perlukan untuk mencetak masa emas generasi kita? Itu pertanyaan mendasar yang masih butuh penelitian dan kajian mendalam. Namun saya mencoba berfokus pada hal selain itu dahulu. Layaknya pembelajaran, semuanya dilalui berjenjang. Semakin gigih dan bersemangat generasi Pemuda saat ini membuat Perubahan, akan semakin cepat Masa Gemilang itu datang.

Dan, terciptalah sejarah dalam sebuah Peradaban.

Semoga saja, ketika masa itu tiba, kita belum terlalu tua untuk disebut Pemuda. Dan semoga saja, ketika masa itu berlalu, baru lah kita tua dan pantas untuk menceritakan itu pada anak cucu.

Perbaikan Peradaban, tanggung jawab bersama.

Untuk Indonesia yang Beradab, dimulai dari Pemuda yang bersatu.

One thought on “PEMUDA dan PERADABAN

Harap tinggalkan pesan, kesan, bahkan pertanyaan.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s