Zona Nyaman

setiap hati punya ruang nyamannya masing-masing.

setiap hati punya ruang nyamannya masing-masing.

Sebenernya problemnya bukan terjun ke ranah baru, tapi memberi inovasi baru pada ranah yang memberi kenyamanan. Ada banyak orang yang bertanggapan bahwa seseorang harus berani mencoba hal-hal baru, harus. Tapi mereka belum memahami esensi Zona Nyaman itu sendiri. Logikanya, ketika kita sudah memiliki keluarga yang memberi kenyamanan, apa harus kita membuat masalah dengan merasa di rumah ada yang salah, lalu kita mencari keluarga lain untuk bergabung didalamnya, hanya karna tagline ‘Beranilah keluar dari Zona Nyaman mu!’

Kita hanya perlu memberi inovasi-inovasi pada hal yang menyenangkan hati kita, di dalam hidup yang kompleks ini kita pasti memiliki ketertarikan hati di bidang-bidang tertentu, misalnya bidang musik, makanan favorit, genre film, warna favorit, banyak sekali. Nah, ini, kita bisa eksplor lagi hal-hal apa saja yang menarik perhatian kita, agar kita menemukan hal-hal baru. Bukan dengan menggonta-ganti kenyamanan, itu labil namanya.

Misal, sudah nyaman dengan warna favorit Hijau Muda, karna merasa monoton, lalu mencoba menyukai warna biru muda. Hey, wake up! Kamu hanya sedang berada pada fase terendah dalam menyukai, bukan berarti terhenti. Selami saja dulu, nanti rasa sukamu juga pasti kembali. Tidak semua hal harus diulang dari awal. Kecuali memang ada pembenaran atas hal tersebut mutlak salah jika terus menerus dianut.

Contoh lain, pengalaman pribadi saya. Saya bergabung di Majelis Permusyawaratan Mahasiswa, sebuah organisasi intra kampus yang membidangi Legislatif, satu-satunya di seantero kampus, disaat organisasi lain di bidang eksekutif. Saya bergabung 4 periode lamanya, kenapa saya tidak mencoba menantang diri saya dengan keluar dari MPM? Bergabung di BEM atau HMJ misalnya? Jawabannya karna saya menemukan Cinta saya di MPM, saya nyaman disana, disanalah jiwa saya ada. Kenapa saya harus beralih? Hanya karna sebuah tantangan global tentang makna Zona Nyaman yang tidak serta merta sebuah fatwa, bukan?

Saya tetap mencoba ranah eksekutif untuk mencoba hal baru, tapi tidak dengan meninggalkan MPM. Saya mengikuti organisasi eksternal kampus, komunitas-komunitas, dimana saya ditantang untuk lebih banyak eksekusi dibanding konsepsi. Saya memberanikan diri, saya mencalonkan diri menjadi Koordinator Acara pada sebuah acara Seminar Nasional, dan berjalan sesuai rencana. Apa ini artinya saya tetap tidak keluar dari Zona Nyaman?

Saya memahami arti kecintaan terhadap apa yang jiwa saya senangi, saya tidak boleh labil hanya karna fluktuasi perasaan. Mencoba memberi inovasi dan mencoba hal baru tapi dengan ranah yang berbeda. Itulah pemahaman ‘aneh’ saya mengenai Zona Nyaman.

Masih mau mencoba kekonyolan dengan melepaskan apa yang jiwa mu senangi? Come on, Move up!

Harap tinggalkan pesan, kesan, bahkan pertanyaan.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s