Pendam

aku akan mengawasi arah gerak mu, termasuk megawasi kemana arah hati.

aku akan mengawasi arah gerak mu, termasuk megawasi kemana arah hati.

 

Mengutarakan perasaan pada hati yang ke selatan.

 

Awalnya, niatku sederhana: Memberanikan diri menyampaikan perasaan ku yang kadang kacau balau hanya karna cemburu pada dia yang disebelahmu, perasaan ku yang kadang gegap gempita hanya karna kau ucapakan ungkapan penyemangat, singkatnya rasa Cinta ku pada mu.

Lalu, sepertinya hatimu tidak pada arah yang sama, tidak terarah padaku, benar-benar laksana mengutarakan perasaan pada hati yang ke selatan.

Kalau aku ungkap, aku paksakan, setidaknya melegakan perasaanku saja, aku takut semuanya tidak baik-baik saja setelah itu. Kau tak ku dapat, Persahabatan jadi canggung tingkat tinggi, Kisah terhenti tanpa kesimpulan. Itu yang aku takutkan.

Bersamamu menuliskan beberapa kisah (yang sepertinya hanya aku yang memaknai lebih), sudah cukup menghiburku dalam proses menahan perasaan ini.

Sama sepertimu, yang menyimpan perasaan, yang kau buatkan kalimat puitis di akun dunia maya mu, kau mengharapkan perasaan yang berbalas bukan? Setidaknya kalau bisa berbalas, kenapa tidak. Begitu pun aku terhadap mu.

Aku sepertinya benar-benar dikukung resiko, dan kurang berani memutuskan keputusan perihal yang satu ini, urusan hati memang kadang merumitkan kehidupan. Salah satu jalan tengah yang bisa terlihat dengan jelas oleh pandanganku yang kabur ini adalah: Memendam nya.

Sebaiknya aku pendam saja, toh sampai saat ini aku belum bisa berani, lagipula aku tidak begitu percaya diri membaca kalimat-kalimat mu mengenai cinta di sosial media, sepertinya bukan tertuju untukku. Ah siapa pula aku ini? Jadi ya sudah, aku pendam saja.

Ibaratnya, aku menanam perasaan pada tanah gembur pengharapan, tumbuh dan berkembangnya perasaan itu tergantung aku merawatnya, meski nanti buahnya akan ku petikan untuk siapa dan orang itu mau atau tidak menerimanya itu persoalan waktu. Aku usahakan saja apa yang aku bisa untuk sekarang ini. Seperti mengganti kegundahan dengan mendo’akan mu, kebahagiaanmu, dan semoga arah hatimu tertuju pula padaku. Sehingga aku tak usah susah-susah lagi menjawab pertanyaan “sa, siapa ‘nya’ yang kau maksud?” karena tulisanku “Ya Rabbi, jagalah khitbahnya hanya padaku”

Satu lagi, aku juga ingin sekali saja setidaknya, menjadi ia yang mendampingimu pada larut malam untuk memandangi gemintang, setau ku kamu suka memandangi gemintang, dan semoga juga ketika kau melambungkan angan memandang gemintang, kau hanya memikirkan ku, bukan yang lain lagi. Sekali saja.

Sayangnya, tulisan ini pun caraku memendam. Diam-diam menuliskan. Padamu, untukmu, tertuju ke arahmu, yang semoga saja tidak ke selatan, karena aku di utara.

 

 

Palembang, 20/07/2014

23:00 WIB

Harap tinggalkan pesan, kesan, bahkan pertanyaan.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s