Walk-Out!

Walk Out 1

Pengalaman pertama setelah 3 Tahun bergabung dalam keluarga penuh pembelajaran, MPM POLSRI.
Saya Walk-Out dari Persidangan.

Saya benar-benar berani melangkah meninggalkan semua keputusan untuk diambil alih tanpa persetujuan saya .
Egois? Keras Kepala? Tidak bisa menerima kenyataan? Aneh? Apalagi yang ada dikepala mereka ketika saya Walk-Out, entahlah saya sedikit tidak peduli penilaian itu, fokus kepedulian saya adalah menyelamatkan sesuatu yang saya cintai, MPM POLSRI.
Ketika saya melangkah pergi, tak ada satupun dari adik-adik yang berkata “kemana mbak mona pergi, saya ikut mendampingi” mengejar saya dan mengajak saya kembali masuk ke ruang sidang. Tak Ada satupun. Patutkah saya Kecewa?
Ini bukan masalah Opsi saya tidak diterima, Ini bukan masalah Jabatan yang tidak direngkuh. Ini masalah kedewasaan dan pengkhianatan.


Bagaimana rasanya jika Anda,ibaratnya berjalan disebuah jalan yang panjang dan dalam perjalanan itu anda menemukan mereka-mereka yang hilang arah dan kurang mengetahui kondisi jalan, lalu anda merangkul mereka dengan semua hal yang anda punya anda bagikan pada mereka. Anda tuntun mereka berkembang, hingga pada titik di Jalan panjang itu mereka sudah bisa melihat arah yang masih belum tentu benar, lalu mereka mulai membantah anda tanpa peduli lagi semua pengorbanan anda.

Tetiba terjadi perang dijalan itu, dengan kecintaan anda kepada mereka meski sikap mereka telah berubah anda tetap maju ke Front Line, merelakan tubuh anda menjadi Tameng dari panah-panah yang berdatangan untuk melindungi mereka, ketika semua panah telah tertancap, anda menoleh ke belakang, memastikan semuanya baik-baik saja, namun darah anda yang mengalir pun tak dianggap. Mereka beberapa hanya diam menyaksikan, beberapa lari ke dalam hutan, beberapa seolah berani mencoba jalan lain, Apa kah anda masih ingin menunggu mereka tergugah dan mengobati luka anda? Atau dengan daya upaya yang tersisa anda berjalan gontai menyembuhkannya sendiri? Coba dalami baik-baik, dan Beri tahu saya jika kalian diposisi saya, apa baiknya?

tumblr_n6ir0qwk9T1qmahalo1_1280

Saya hanya merasa dikhianati, tidak lebih.
Perjanjian antara saya dengan ketua golongan mereka mengenai Struktur seketika dibatalkan dilapangan (clue: Ketua Umum dan Wakil Ketua 1). Seorang adik perempuan yang mencitrakan dirinya perempuan baik penuh keceriaan malah mencoba mencirikan dirinya mampu menjadi Ibu dari Perjuangan panjang ini. Saya di tikam.
Kembali pada realita, ketika niat baik kita dinilai mengobrak-abrik susunan yang sudah mereka buat, lalu niat baik itu dibuat seolah propaganda iblis. Coba jelaskan, tanggapan anda jika diposisi saya?

Sebelum Sidang Umum berlangsung, kedua adik saya sudah memetakan posisi untuk jabatan diperiode ini, D dan A berpotensi besar menjadi Ketua Umum, lalu apakah saya harus memilih? Tidak, sebelum SU terlaksana, saya menjadi jembatan mereka berdua, kedua sahabat yang saling melihat bagaimana satu sama lain bertumbuh. D bilang, dia tidak ingin bersaing dengan sahabatnya sendiri, D sadar bahwa dengan ide-idenya dia lebih memilih posisi wakil ketua, karna dia menakutkan kekauan akan pelaksanaan ide yang akan terjadi jika dia menjadi Ketua Umum. Sedang saya tau pasti, A meski berkali-kali berkata tidak ingin menjadi Ketua Umum, A tetap menuliskan di Catatannya bahwa Targetnya di 2014 adalah menjadi Ketua Umum. Saya melihat perkembangan A yang ibarat Rising Star dalam organisasi kampus, dia punya beberapa kriteria kepemimpinan yang tidak dimiliki D, namun dilihat dari sifat dan skill D jauh lebih unggul, meski pribadi A adalah tipe orang yang mau terus belajar dan memperbaiki diri.
Akhirnya, sampailah pada sebuah kesepakatan, bahwa D yang akan menjadi Ketua Umum. Namun ketika Sidang Umum pertama hasilnya adalah A yang terpilih. Awalnya, ini bukan masalah, toh ini adalah plan B nya. Dengan kondisi yang berlangsung, kesepakatan awal bahwa D akan jadi Wakil Ketua seharusnya sudah bisa dijadikan pedoman untuk Sidang Umum kedua pada minggu berikutnya.
Setelah A terpilih, beliau menyampaikan pidato awal kepemimpinannya, saya keluar ruangan dan mendengarkannya dari depan pintu. Hati saya bilang “Ini bukan yang seharusnya” entahlah pasti akan terjadi banyak konflik, tapi jauh dilubuk hati saya “Inilah yang terbaik”.
Silih berganti air mata turun dari beberapa anggota lama yang notabennya akan berpisah. Seorang L mendatangi saya dengan perkataan “salah ngga mbak, saya mencalonkan A” dengan terisak. Saya hanya diam, saya berfikir “kamu berbohong, hatimu memiliki ketertarikan L pada A, jika kamu tau sifat dan skill nya tidak bisa jadi pemimpin, lalu kenapa kau calonkan? Hati dan Rasionalitasmu tidak sinkron”
Mulai banyak yang mempermaslahkan pemilihan pada SU1 tersebut, tapi saya masih mencoba melindungi mereka, Saya lagi-lagi dengan keberanian yang entah darimana tetap membalas argumen yang menyudutkan MPM Polsri. Lagi-lagi demi MPMnya.
SU II, hm… terlalu banyak emosi dan airmata. Yang pasti saya tersadarkan, mana sahabat mana musuh.
Sekarang kita coba pikir visioner, mau kerja sebaik atau seburuk apapun semua orang di MPM, yang dinilai adalah organisasi X nya bukan MPM nya. Netralitas sudah mati, Allah dijadikan tameng untuk keserakahan yang elegan. Jika memang mencintai MPM, kenapa tidak mengalah? Merasa bisa mengurus MPM? Tak perlu petuah lagi?

Selamatkan MPM Polsri. Selamatkan! Sebelum itu rusak dari internnya sendiri. Saya ingatkan sekali lagi, MPM adalah organisasi tertinggi, jika chaos maka……?

Saya bukannya menyerah lalu melangkah pergi, saya hanya mencoba memberi jeda pada hal-hal yang masih entah, dan saya malas berkerja sama dengan sistem yang sudah diutak-atik beberapa pihak agar tujuannya tercapai, tujuan apa? Bukan tujuan untuk MPM itu sendiri, melainkan Ego dan Golongannya.
Menempatkan orang-orang itu berdasarkan apa? Cuma gegara dia anak pagi-siang? Konyol!
Tempatkan berdasarkan SKILL. Soal, mau belajar saya kira bukan diposisi setinggi itu jika ingin benar-benar belajar, rendah hatilah, mulai dari bawah. Belajar itu harus paham kondisi, meski secara tersirat pada semua jabatan orang akan tetap belajar dan terus menerus belajar. Untuk jabatan pengambil keputusan dan pembuat kebijakan, pribadi yang masih awam perlu ditakar ulang. Diposisi itu yang dibutuhkan adalah orang yang paham, yang mampu memberi arahan pada yang lain, bukan orang yang ketika berjuang masih membaca buku, sedang musuh datang menyerang.
Melunaklah, Evaluasi Diri, dan cerita saya mengenai kisah pilu ini masih belum selesai, masih belum menemukan solusi terbaik, saya hanya menulis ini untuk mejabarkan perasaan yang berkecamuk terlalu lama dan mengganggu konsentrasi saya. Saya menulis ini sebagai bentuk lain dari diam saya selama ini, diam saya melihat citra buruk yang mereka label-kan kepada saya.
Saya takutn, jika nanti saya amin-kan do’a mereka itu, yang menilai saya terlalu mengendalikan MPM, saya mendoktrin adik-adik saya, takutnya itu akan saya lakukan dalam waktu dekat. Karna selama ini saya sudah berupaya toh masih dinilai sama? Kita lihat kemana arah hati dan pemikiran saya, pada Jum’at ini.

Tertanda, Penyelamatan yang tertunda, dari dia yang Tertuduh.

Mona Khoirunnisah Safri

Harap tinggalkan pesan, kesan, bahkan pertanyaan.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s