Talk to Me !

images (1) Ketika saya duduk disini, menjadi sorot utama, saya sadar akan banyak celah yang akan saya hadapi, sebagai ‘Orang yang dinilai’. Tak mudah menjadi penegak kebenaran meski untuk lingkup kecil saja. Beban ini berat, harusnya ada seribu orang yang mendatangi saya lalu berbicara dengan keras ditelinga saya sebelum saya masuk organisasi “INI BERAT, INI WILAYAH RAWAN, KAMU MAU DINILAI WANITA SOK TAU, ATAU JADI WANITA YANG TERKENAL KILLER? KAMU ITU WANITA. HARUSNYA SADARI ITU. KAMU MAU PULANG MALEM DAN LEMBUR PADAHAL NGGA DIGAJI.. KAMU MAU DIMARAHIN ORANG LAIN SELAIN GURU DAN ORANG TUAMU. BERHENTI DISINI ATAU MATI KONYOL”

Itu, harusnya semua orang menyerukan itu sebelum aku jatuh hati berorganisasi ini. Rasanya aku merasa manusia paling berani sedunia. Entah kenapa, aku menilainya ‘gentle’ saja. Berani melawan kubu besar, (bukan kubu jambi, yang satu ini sudah sekolah dan sudah mahasiswa). Inilah nama lain dari ‘Pembaharuan’. Ketika menilai banyak hal dari lensa mata saya saja, hanguslah cita-cita jadi pembaharu. Ketika tangan tak bisa berbuat lebih dari yang lain, maka terlalu bodoh ketika saya bermimpi bergabung didunia kerja ekonomi pembangunan dunia.

Memang sudah saya perbaharui mimpi yang saya tulis sebagai wanita bukan sebagai pemimpi. Yang bisa saya lakukan diruangan dingin ini adalah menatap ke luar jendela. Saya melihat kebebasan disana, tapi sebuah totalitas dan patriotisme yang mendarah daging dalam diri saya tidak pernah menyetujui ‘berhenti ditengah jalan’.

Saya bingung, bagaimana cara terbaik meladeni kumpulan preman. Saya bingung, bagaimana cara terbaik merubah pandangan orang tentang kita. Saya kalut, bagaimana dengan mudahnya orang lain menilai pribadi saya tanpa pernah bertanya langsung.

Apa perlu saya meniadakan do’a untuk organisasi ini setelah do’a untuk islam, keluarga, masa depan, dan sahabat saya ketika sholat. Namun, imajinasi saya ini mengajak saya untuk berfikir lebih real. Ketika mereka berdebat hebat didepan saya. Saya hanya bisa berkata “berimajinasilah, out of the room or you quit from this game” jadi ketika semua sudah bermain cantik dengan emosi dan taktik, saya baru kembali dari lamunan panjang. Menyenangkan memang, punya senjata ajaib yang bisa digunakan kapanpun itu. Tapi senjata ini bisa membunuh saya, jika saya tak bisa menahan senyum karna imajinasi.

tumblr_lnhualS3zU1qbpwzeo1_500

Saya ini memang wanita keras kepala, apalagi untuk kepentingan saya sendiri misalnya kesehatan. Jarang saya dengarkan perintah Ibu saya untuk istirahat saja daripada begadang bikin tugas. Atau anjuran ibu untuk pulang kerumah lebih awal tidak usah urus organisasi MPM mu terlalu keras. Dari SD saya mengidap Asma, melewati SMP tak pernah kambuh seingat saya, ketika SMA menjelang UN asma saya kambuh lagi, dan sekarang sudah mahasiswa Asma saya sering kambuh berkat tumpukan tugas tercinta.

Jadi ketika saya menangis beasiswa saya belum lolos dibanding orang yang “belajar aja nyontek, atau ngomong aja salah, pertanyaan-pertanyaannya ngga bermutu, Cuma ngandelin tampang depan dosen”  Wajar…

Sekarang sudah satu bulan semester 5 saya jalani, dan selama itu pula saya sakit. Beberapa hari izin untuk istirahat, benar-benar saya tinggalkan tugas saya. Termasuk di organisasi, beberapa menanyakan kabar  saya mencoba mencari hikmah dari ini. Mungkin dengan ini saya bisa tau Siapa yang harus saya percaya, Siapa yang harus saya jauhi.

Saya punya junior di organisasi, orangnya sudah terkenal ‘sok vocal’ setau saya dia itu selama pendidikan dasar mahasiswa baru dia sok banget dateng ke tiap group cari muka. Kalo rapat, selalu bicaranya emosional ‘sok ngewakilin mahasiswa’ padahal diluar sana dia bergriliya sama kubu ‘yang dibilang kalo lo ngajak ribut, hayuk ribut’ buat jatohin organisasinya sendiri. Biar apa? Biar dia didukung sama para antek yang dinilai serem itu. Beberapa kali dia cari masalah, malah bilang “RETORIKA SAMPAH”. Dia yang bantuin nyusun struktur, eh dia yang mempertanyakan sama ketua tentang fungsinya, komentarin anggota lain eh dia sendiri manage anggota gimana?

Itulah yang jadi cerminan bagi umat yang berfikir. Kalo dia BERIMAN dan BERAKAL. ngga ada tuh ngomong kata-kata kotor diruang formal, ngga ada sepatu masuk keruangan ngga dilepas dulu, ngga ada namanya main suruh aja, ngga ada namanya adu domba, kalo memang orang beriman namanya keluarga diorganisasi ngga mungkin difitnah sana-sini, dan masih banyak lagi.

Banyak yang cerita ke saya tentang ini, tapi saya lambat laun berfikir. Inikah salah satu tanda akhir zaman? Yang Baik terlihat salah. Kerjaannya kaum munafik nih.. Tapi saya seneng sih, selama yang benci saya terbukti sholat kagak, kerjaannya ngerokok sambil bangga cerita kotor, atau mereka yang hobi keluar malem tapi tugas tinggal copas. Ada beberapa yang saya yakin sebenarnya hatinya baik, semoga saja segera berubah (amiiin).

Coba ambil hikmah dari setiap problem.. Sebab – Akibat, Aksi – Reaksi. Selagi yang support saya orangnya rajin dan taat agama, atau bahkan temen-temen yang soliditasnya tinggi, bahkan temen-temen saya yang bisa dibilang dari golongan underground. Mereka jauh lebih harus difikirkan, mereka bisa mempercayai saya, artinya ada hal yang mereka rasa tepat.

Berfokuslah pada hal positif… Kita baik saja ada yang benci, Apalagi jahat. Mereka diluar sana akan selalu ada alasan untuk mengkritik…

Harap tinggalkan pesan, kesan, bahkan pertanyaan.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s