Realize..

 

35Assalamualaikum..

Setelah sempat galau selama beberapa minggu untuk benar-benar mengubah mindset tentang sukses itu apa, akhirnya saya sudah mantap dengan jawaban yang saya temui. Di postingan sebelumnya saya sudah pernah menuliskan bahwa standarisasi sukses antara Wanita dan Pria itu sepertinya harus berbeda, kita sebagai wanita tidak bisa memaksakan diri untuk bisa sukses di level laki-laki, tapi bukan berarti selama peradaban manusia wanita tidak pernah bisa lebih sukses di banding lelaki, itu masalah takdir.

Sekarang saya paham, saya tersadarkan. Bahwa lelaki dan wanita memang harus dibedakan standarisasi itu, jangankan tentang kadar sukses, dalam penciptaan pun memang sudah dibedakan. Jadi, kita harus sadar diri tentang perbedaan – perbedaan itu, lalu dengan lawan jenis kita harus saling menghargai, sebab kita ada lebih dan ada kurang dibanding mereka.

Bagaimana Allah melebihkan akal kepada lelaki, mereka bisa berfikir lebih panjang dan tidak emosional dibanding wanita, mereka lalu diberi hak atas talak. Lalu lelaki diberi kesempatan dapat hak waris 2 dan wanita 1, karna lelaki akan menanggung istri, anak, dan masih banyak lagi. Sedang wanita kebanyakan waris itu sudah untuk dirinya sendiri, apalagi jika dia sudah bersuami. Lalu kenapa wanita sekarang merasa terkekang dan tidak bebas dengan hanya mengurusi harta suami dan anak-anaknya, padahal Allah memberikan susunan saraf wanita lebih baik dalam koordinasi otak kanan dan otak kiri yang membuat wanita bisa melakukan beberapa pekerjaan sekaligus, multitasking bahasa kerennya.

Mendadak saya menyesal, efek feminisme dengan kata-kata emansipasi yang membendung paradigma berlebihan atas kesetaraan lelaki dan perempuan pernah menggiring saya sejauh ini. Tapi setidaknya saya dihantarkan pada sisi-sisi hidup yang jika saya ingat dan saya renungkan membuat saya merasa perbaikan kedepan akan memberi flashback lebih haru dibanding saya memang salah mindset dari awal.

Jika dulu tak saya urungan niat saya untuk menjadi bla bla bla, yang intinya sukses berpenghasilan tinggi, jadi pimpinan perusahaan multinasional, dsb mungkin nanti saya akan sangat menyesal. Saya dulu diberi pencerahan tentang konsep sukses oleh pemikiran sendiri dan bacaan yang belum bisa saya pilah pilih, saya memang salah atas masa lalu satu itu. Saya lupa, mencantumkan merawat anak, mengajarinya membuat tugas sekolah, mengajarinya makan, mengurus suami? Dangkal sekali pemikiran saya, kenapa tak saya cantumkan itu semua? Malah, saya memikirkan S3 dan menjadi inovator tekhnologi dunia.

Saya belajar IT, belajar bermacam bahasa, belajar pelajaran matematika biologi fisika kimia, belajar jadi public speaker, belajar jadi wanita yang bisa bekerja dilapangan. Ikut ekstrakulikuler Paskibra lalu jadi ketua, Pramuka di team cerdas cermat dan inovasi, Drum Band, Sastra, Rohis, dsb. Persiapan matang itu apa tak berguna lagi kedepannya setelah saya revisi Standarisasi itu? Pasti berguna lah, hal baik tak pernah menghasilkan hal buruk jika memang itu baik.

Kita istimewa, wahai wanita. Kita tidak terkekang, kita malah membebaskan ladang pahala dipanen jika mematuhi semua yang dianjurkan atas kita. Bukan berarti kita tidak boleh melakukan hal – hal lain, selagi hal itu positif kenapa tidak? Asal tau batas. Asal definisinya tepat, Asal kita tau Asal.

Wassalamualaikum.wr. wbimages (4)

 

Harap tinggalkan pesan, kesan, bahkan pertanyaan.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s