Metamorfosis Diri (lagi)

Fase kali ini adalah dimana saya harus kembali diam, mencerna ulang semuanya. Termasuk kesalahan yang dikarenakan kesalahpahaman.. Beberapa waktu lalu adalah waktu dimana saya mencoba menetas kembali, bermetamorfosis lagi..

Begitu banyak yang saya dan keluarga saya alami tanpa saya share sama sahabat atau teman. Saya mau menghadapi nya sendiri karna sering saya mencoba lebih terbuka mereka juga tidak mengerti dan akan mulai berspekulasi. Dan ketika (lagi-lagi) saya menunjukan cinta kepada Pjj-a yang saya lakukan malah dinilai bukan apa-apa bahkan sebuah alibi. Hingga detik saya menulis ini fikiran saya masih tertuju ke salah satu dosen favorit saya yang sekarang marah karna salah paham terhadap saya.

Sumpah demi apapun, saya hanya peduli terhadap mereka. Masalahnya Cuma mereka yang ga paham cara orang lain berkorban karna sudah NEGATIVE THINKING. Tolong lah mulai ingat-ingat lagi pengorbanan orang lain, kalau memang mau melihat siapa yang benar dan salah untuk kali ini.

Saya sudah anggap mereka sahabat saya, terlepas dari apa yang mereka fikir tentang saya. Sungguh, ketika air mata yang jatuh hari itu bukan masalah dengan dosen itu yang pertama kali saya tangisi tapi rasa benci mereka yang tanpa alas an rasional.

Masalah bertumpuk jadi satu ditambah dengan beberapa orang di kampus, dan dari beberapa organisasi berbeda mulai menyudutkan saya. Bahkan membicarakan saya dengan alumni (yang dulu berhubungan baik dengan saya) dan senior itu sinis dengan saya melalui social media. Salah seorang rekan di Organisasi saya pun mulai berani menyudutkan saya, karna dia sudah dapet anak baru buat dijadiin boneka.

Saya tau jalan yang saya ambil untuk membuat 2 organisasi yang saya jalani membaik dan berhenti ekspos keburukannya di lingkungan kampus memang berat. Saya harus menjadi perisai yang Speak Up! Dengan semua orang-orang berpotensi yang belum berani di belakang saya. Ketidakadilan, Pemahaman yang memaksakan, Pemikiran yang terlalu sempit, tidak mau menerima Inovasi, Ilmu yang dipaksakan, dan yang paling parah Pencitraan yang menjurus pada kemunafikan.

Saya sadar, semakin tinggi pohon, akan lebih lagi ujiannya, Dilewati kabel listrik, Ada layangan nyangkut, Daunnya dipetik dengan sengaja, Kulitnya dikeruk, dan banyak lagi. Saya menganalogikannya seperti itu, karna saya berdamai dengan diri sendiri tadi pagi. Saya dengarkan music-musik keras, saya berfikir, saya tenangkan jiwa. Berbicara dengan diri sendiri, mencoba memaklumi keadaan, meyakini hari esok yang pasti lebih baik, mengingat orang-orang yang saya cintai, dan tentunya Niat baik saya.

Pengorbanan yang keras menghantarkan saya pada fase ini, Emosi yang saya coba kendalikan akhirnya menjadi hal yang membuat sesak napas saya. Tapi saya yakin, semua akan mengerti dengan waktu dan cara yang tepat. Allah akan menunjukan pada mereka, yang saya harapkan adalah secepatnya mereka memahami, mau berubah. Seperti tiga semester ini yang saya jalani, berubah demi mereka, mendengarkan perkataan mereka. Meski terkadang ketika perkataan buruk menghapiri saya coba jadikan motivasi tapi tetap saja hati ini kecewa, namun saya mau berubah saya ambil sisi positive. Bukankah hidup itu menuntut kita untuk dinamis?

Maka jadilah saya pada detik ini, menuliskan lagi apa yang saya ingin katakana kepada mereka. Katakan pada diri saya sendiri, mencoba menghibur diri, meyakinkan hati, dan menyusun lagi jadwal yang terbengkalai karna waktu yang saya butuhkan untuk menyadari semuanya ternyata lumayan panjang.

Tak ada salahnya mendengarkan orang sekitar, karna kita hidup bukan sendirian, kita dinilai oleh orang lain, Dengarkan saja mungkin awalnya akan sangat perih, namun itu bagaikan membangun tangga menuju kesuksesan. Dan jangan bersedih pula ketika anda sudah mau berubah namun masih saja ada yang berpendapat negative, karna hidup itu ada pro-kontra.

Tetap yakin pada kebenaran, Pengorbanan yang akan berbalas, Cintai yang anda miliki, maka Allah akan berikan jalannya.

Saya juga sering menguatkan diri dengan mencoba berbicara dengan saya sendiri, saya sering berbicara dengan jiwa saya, bahkan saya beri nama ‘nisa’ dari nama belakang saya. Contohnya gini: “kamu pasti bisa sa!!” atau “kamu hebat banget sa” karna kalo emang belum ada yang bisa bantuin kamu buat nyelesain semuanya. Kadang kamu bisa yakin dengan kemampuan diri sendiri kan?

Karna yang perlu kamu yakinkan pertama kali itu ya dirimu sendiri, baru ke orang lain. Sebenarnya butuh dikuatkan, tapi saya kepalang senndiri. Ya udah, saya akan kuat sendiri.. saya akan hadapi, sekecil dan sebesar apapun masalah didepan sana, Allah pasti memberi solusi.

Allah hanya sedang menguatkan dan mengangkat derajatku.. Dia menunjukan bahwa Dia menyayangiku

Dia memilihku untuk semua ini.. Dia ingin menunjukan pada yang lain bahwa aku mampu.

Harap tinggalkan pesan, kesan, bahkan pertanyaan.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s