OPEN MINDED, APA ADANYA, LIHAT VISI AWAL..

Assalamualaikum..

Sekarang, saya akan tetap menjadi se-apaadanya saya. Sambil terus memperbaiki diri, tidak mengekspos ke orang banyak, hanya nanti adanya pencintraan dan ekspektasi yang bermasalah. Kau cerminkan dirimu wanita sebaik-baiknya didepan orang banyak, namun dikalangan tertentu kau buat seperti tak ada salah, tertawa terbahak yang ditahan, jika didepan orang lain maka kau akan mencoba tidak tertawa.

Entah kenapa saya memilih begini sekarang, mungkin karena teman-teman seperjuangan sudah mulai memilih untuk pergi dari perjuangan ini. Kenapa dulu saya bisa dekat dengan mereka karna saya menjadi saya. Saya memang senang menginangat hal awal, karna hari ini ada karna sejarah.

Saya mau bercerita sedikit tentang hati yang mencoba terus menjadi pribadi yang lebih baik, terus menjaga ikatan silahturahmi dengan yang lainnya.

Semester 1, saya ikut dua organisasi, basis kepemudaan dan basis agama dikampus. Karna saya yang terlalu cepat memahami lingkungan membuat saya selalu berbeda, saya tahu organisasi agama ini ada yang salah, dan hamper 70% semuanya ikut pemahaman yang salah itu. Disana saya melihat ‘wanita’ yang menutup diri namun dalam hati mereka juga ingin ikut dan inovatif. Ini salah keadaan yang tidak mau menjadi lebih baik dengan membiarkan muslimah-muslimah inovatif memberikan warna baru.

Kalian yang membaca ini sedikit mengertilah yang saya maksud nantinya hanya dengan sedikit memperhatikan lingkungan anda lalu cari kesamaan dengan cerita saya ini. Di organisasi X itu saya melihat pakaian nya yang tertutup, ada yang berhijab seadanya, ada juga yang belum mengenakan hijab. Namun, yang didekati pertama kali oleh kakak-kakak senior adalah yang tertutup itu, membuat yang biasa merasa tersingkir, membuat ‘IRI’ pada hati mereka. Namun, niat teman-teman biasa saya untuk terus memperbaiki diri membawa mereka untuk bertahan dalam kepengurusan.

Namun, waktu tetap memberikan porsi lebih pada yang ‘penampilannya’ sama dengan senior, padahal inovasi atau pekerjaan yang dilakukan oleh beberapa orang itu ga pernah mencapai hal yang impikan. Pernah beberapa acara yang di handle oleh teman-teman saya yang biasa malah lebih berhasil, logikanya mudah, mereka kreatif, pemikirannya ga basa-basi, mereka tahu keadaan dilapangan karna mereka open-minded, mereka juga banyak berteman dan tidak membatasi diri. Apakah salah mereka seperti itu? Lagi-lagi penampilan kah?

Munafik!! Hindarilah wahai saudari-saudari ku kata itu, jangan membuang masa lalumu, seperti tak pernah melakukan kesalahan, hingga orang lain mendapati kesalahan itu mereka akan berkata “Ketinggian aku nilai kamu”. Apa Adanya., ga sesulit rusaknya citramu kok..

Teman-teman saya yang biasa itu selalu kurang apresiasi dari senior, dari 100% presentase senior disana, 5% penanamkan pemahaman organisasi luar, 30% demi terlihat muslimah mari ikut pemahaman itu, 30% tahu pemahaman itu salah lalu memilih mundur perlahan, 35% judes sama adik tingkat karna jangan sampai adik tingkat melakukan hal yang sama (mereka juga golongan biasa yang mencoba bertahan dengan menyesuaikan diri).

 

Pantas saja, hanya beberapa senior yang tidak punya jabatan di Organisasi X bisa memahami tingkah laku saya di semester 1. Beranjak ke semester 2, senior sudah sibuk karna tingkat akhir, maka otomatis dari 100% adik tingkat (level kami) ada 80% yang belum mau disuruh-suruh, diperintah, otak mereka mikir kok, mereka juga tertekan kalau dipaksa ikut pemahaman senior yang cenderuh sok idealis. Mereka itu juga dinilai oleh teman-temannya yang lain, hidup mereka ga Cuma di organisasi X saja.

Akhirnya, saya yang semester 2 memilih konsentrasi di organisasi lain merasakan kesenjangan itu, teman-teman yang 80% itu berkerja keras demi yang lain. Namun, tidak diapresiasi baik itu oleh senior wanita, atau pun oleh ‘lelaki’ lainnya di organisasi itu. Yang menyampaikan opsi mereka (teman-teman yang biasa) selalu senior yang 5% itu, padahal pemikirannya dari teman-teman yang biasa itu.

Yang penampilannya tertutup itu yang dinilai oleh petinggi yang berkerja padahal sungguh mereka tidak terlalu memberikan perubahan dan berkerja demi organisasi. KECEWA, MERASA TIDAK ADIL, KURANG DI APRESIASI, padahal mereka sudah cukup tertekan karna lingkungan luar yang menilai kalau organisasi X itu harusnya begini-begitu. Tertekan, tapi tetap bertahan untuk mengubah, tapi sudah berbulan-bulan tetap begitu, wajar kalau sekarang mereka berfikir untuk perlahan mundur, masih banyak jalan kebenaran lain diluar sana. Organisasi X sudah tidak bisa diubah.

Tapi kenapa saya sebegitu dekatnya dengan mereka, saya mau mendengarkan keluh kesah mereka, saya renungkan. ‘kenapa baru sekarang kalian sadar, dulu saya sudah tahu akan seperti ini makanya saya tetap apa adanya, masalah awalnya disitu, maka tetaplah bertahan kawan, kita bisa mengubahnya sedikit lagi dengan bertahan, kalau tidak mereka akan meralela dengan pemahaman nya itu. Dengan pemikiran tambahan dari organisasi dari luar kampus yang seperti nya sudah mendarah daging,

Senior, mengajak orang-orang yang penampilan nya sama yang tidak tahu apa-apa jadi mudah dimasukan pemahaman.tidak usah banyak sanggah, itu dilihat banyak orang. Bahkan terkadang secret, dipakai oleh mereka seperti kami yang menumpang, padahal kebalikannya. Organisasi X sudah tidak sehat, jangan sampai mati suri, karna orang-orang berpotensi berhenti dan yang bertahan orang-orang yang sepaham saja. Taman dengan sejenis bunga, ga indah, ga ada yang menarik, dinilainya juga ga bagus. Perlahan akan mati,

Solusi yang saya fikirkan, adalah kita kumpul sama-sama sebelum pemilihan ketua yang baru, sebelum mereka memilih pergi, akui yang salah, jangan diterusin warisan salah dari alumni (mereka para alumni sudah keluar dari kampus, lingkungannya sudah baru, sudah ketemu banyak masalah lain, jadi pemikirannya udah ‘ga netral’) , lihat vigur anggota itu dari kapasistas jangan dari penampilan. Kasihan orang-orang yang berniat baik, tapi selalu dinilai salah hanya karna tidak sama.

Saya akan mencoba bertahan semampu saya, meski saya akan dilihat seperti aneh hanya karna saya berbeda, saya bertahan menunggu kaum baru yang benar-benar mau mengubah ke lebih baik. Seorang senior pernah saya ajak berdiskusi lalu dia berkata “Kita ini masih didekte alumni” mari kita ubah.. orang lain saya ajak diskusi mengatakan “ Cerita lama”

Jangan kehilangan semangat gini dong, niat kita kan baik. Kita sama-sama ngubah bisa kok, asal kita sama-sama. Waktu pasti berpihak sama kita, mikir aja kalo itu bentar lagi bisa berubah dengan kontribusi dari kita.

Saya hanya sekedar mau kasih saluran aspirasi, jangan dinilai yang tidak-tidak, mungkin kalian hanya kurang mendengarkan sekitar saja. Nanya action saya lagi? Ini salah satunya..

Wassalamualaikum…

Harap tinggalkan pesan, kesan, bahkan pertanyaan.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s