SMA, a moment to remember

Pernah saya terfikir kenapa saya selalu berada dalam suatu proses yang terbilang tidak umum. Ketika masuk fase Remaja, saya malah digiring masuk oleh takdir ke sebuah madrasah aliyah negeri, yang sungguh mengubah hidup saya hingga detik ini. Dan ketika dalam proses pengejaran impian saya malah mendapat perguruan tinggi negeri berupa Politeknik Negeri. Dan masuk ke sebuah program study baru dan nanti akan mendapat gelar yang juga asing didengar oleh masyarakat umum, Sarjana Sains Terapan.

Keraguan itu semakin membuat jarak yang saya paksa dekat dengan impian saya menjadi lebih kabur. Entah apa yang saya impikan. Semua selalu berubah ubah.sesuai dengan kondisi yang saya dapati. Tapi dari proses yang tidak umum inilah saya juga berfikir lebih crusial dibanding remaja umum lainnya. Saat mendapati teman-teman smp saya masuk ke SMA Favorit seperti yang saya impikan, saya malah masuk kedalam madrasah aliyah yang sama sekali tidak pernah terbersit akan menimba ilmu hingga lulus disana.

Semuanya sudah diatur takdir, bagaimana proses menuju impian itu menjadi proses yang berbeda tapi memiliki hirarki yang sama. Ketika dari lulus SD, masuk SMP, lulus SMP, dan masuk SMA, saya tidak didampingi kedua orang tua dan itu sedikit membuat saya sedih dan kecewa, hingga akhirnya lulus SMA, kedua orang tua saya mengatakan bahwa mungkin tidak bisa menghadiri acara itu pula.

Air mata saya sempat jatuh berderu, kesekian kalinya… tapi kali ini saya mengatakan hasrat yang saya pendam selama ini. “bu, ayah, untuk lulusan sma ini saya ingin kalian hadir, dari SD kalian tidak bisa hadir”

Tapi mereka ternyata tetap berangkat menyelesaikan pekerjaan mereka di Jakarta, entah apa yang saya rasakan. Masa-masa berbinar di SMA, dengan segudang prestasi, saya ingin pakai kebaya bagus bukan pinjaman tante lagi, saya pingin bikin kebaya, saya nyatakan niat itu 3 bulan sebelum lulus sma. Tapi semua yang saya rencanakan tidak berjalan dengan baik, saya tetap harus mengenakan kebaya yang sama ketika saya lulus SMP, punya tante saya. Make up seadanya, jilbab pun mirip ibu-ibu.

Saya sangat tidak percaya diri, ketika ibu dan ayah menyampaikan kalau mereka akan sampai subuh, sebelum acara perpisahan saya. Dan jilbab yang akan saya kenakan sudah ibu beli di tanah abang, rasanya ingin menangis. Mereka memaksakan diri demi saya meski 3 hari dari itu hari berangkat lagi.

Sesampai mereka di rumah, saya langsung mencari jilbab tapi yang saya dapati adalah jilbab untuk ibu-ibu kondangan. Rasanya malu sekali, namun saya hampir meneteskan airmata. Ibu saya yang sibuk, merelakan diri bergeliat di pasar ramai di tengah kota Jakarta untuk membelikan saya jilbab untuk acara perpisahan. Akhirnya saya memutuskan untuk mengenakan jilbab itu.

Saya memang merasa hal ini salah, memaksakan ibu untuk memake-up saya, dia lelah, saya tahu. Tapi ini acara satu kali seumur hidup. Perpisahan SMA (masa dimana saya mencipta banyak prestasi). Saya terpaksa make-up sendiri.

Persiapan perpisahan SMA selesai, Ayah yang memilih datang ke perpisahan. Lalu, saya menjemput sahabat-sahabat saya beserta ibunya untuk berangkat bersama, menumpang mobil ayah. Mereka terlihat cantik, kebaya nya sudah jadi. Make-up mereka disalon. Sedangkan saya, kebaya tante (kebaya yang sama ketika perpisahan SMP), tas milik ibu yang harganya tidak sampai seratus ribu, dan satu lagi high hills tante yang sudah lama dibeli semenjak ia kuliah.

IA2 MAN 1 PALEMBANG THN ANGKATAN 2012

Diacara perpisahan, semua bahagia, namun ketika menyanyi bersama, saya menangis haru, memutar lagi video rekaman selama sekolah. Alhasil, sebagian anak-anak yang ada dibarisan kursi saya memandangi saya dengan aneh. Yang lain bahagia dan saya sesegukan tak karuan, lagi-lagi saya tidak senormal anak-anak lain.

Bersalaman dengan semua guru MA, airmata bercucuran, ketika yang lain bawa kamera saya hanya foto lewat handphone. Lalu, tas ibu tiba-tiba robek. Dan high hills tante tali nya putus, what the worst party, right? Saat semua lelaki foto bareng temen-temen yang lain. Tidak ada yang mau foto bersama saya, kecuali teman-teman dekat saya. Dan saat semua dipuji cantik, saya adalah orang terakhir yang mereka sadari bahwa saya hadir di acara itu. Bukan orang yang ketika datang, dipandangi kagum.

Impian saya menyampaikan pidato kelulusan pun gagal, ternyata juara umum 1 lebih dipilih, karna dia pernah menang pidato bahasa inggris tingkat kota. Yang isi pidatonya adalah kutipan yang saya katakan selama pidato bahasa inggris antar kelas. Hanya saja jurinya adalah guru dia ketika kelas X, dan tau kalau dia les di tempat yang terkenal. Rasanya lucu, marah, kesel, jengkel. Tapi tak apalah, mungkin suatu saat nanti saya yang akan memimpin pidato ketika reuni nanti. Sebagai salah satu alumnus tersukses (amin).

Namun, terlepas dari ketidak normalan itu semua, saya tetap terus mempunyai satu keabnormalan paling aneh, yaitu impian saya. Untuk menjadi Politisi besar, kuliah di Australi, Keliling Eropa, dan menjadi salah satu inspirator bagi orang banyak. Disaat semua teman saya berkata “jangan bermimpi terlalu tinggi!!” saya juga sempat down, tapi saya selalu jawab. “Bermimpilah setinggi-tingginya, walau nanti terjatuh masih ada bumi kan yang akan menunggu dibawah tempat kalian berpijak dan tak pernah berubah langkahnya”.

 

Palembang, 17:25 WIB Kamar 30 Nov 2012

One thought on “SMA, a moment to remember

Harap tinggalkan pesan, kesan, bahkan pertanyaan.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s